Dituntut 14 Tahun Kurungan, Nasib Calon Pendeta Cabul Bakal Diputuskan Besok

Dituntut 14 Tahun Kurungan, Nasib Calon Pendeta Cabul Bakal Diputuskan Besok

Foto : Kuasa Hukum korban, Abdurachman Syarief (kiri) dan Direktur Investigasi Indonesia Law Enforcement (ILE), Bagus Taradipa memperlihatkan foto bersama tersangka dengan beberapa pejabat yang di posting di instagramnya, Kamis (25/7/2019).



CIANJUR. Maharnews.com - Kasus dugaan sodomi 7 anak di bawah oleh oknum calon pendeta di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Timothy Luke Sapitra (TLS) akan diputuskan besok, Rabu (6/11/2019). TLS dituntut 14 tahun kurungan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Siti Nurhayati.

"TLS dituntut 14 tahun kurungan dan denda sebesar 25 juta subsider kurungan 6 bulan serta diwajibkan membayar restitusi (ganti kerugian) yang perhitungannya dilakukan oleh Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK) Jakarta," ungkapnya saat ditemui di kantornya, Selasa (5/11/2019).

Ditanya terkait tuntutan 14 tahun kurungan, Siti menerangkan itu sudah sesuai konfirm dari Kejaksaan Tinggi.

"Rencana tuntutan jaksa (Rentut) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) 14 tahun kurungan dan setelah diserahkan ke Kejati konfirm 14 tahun kurungan juga," terangnya.

Ditanya terkait sidang putusan, Siti membenarkan jika agenda sidang putusan TSL akan dilaksanakan besok, Rabu (6/11/2019). Ia juga mengatakan sidang putusan terbuka untuk umum, sehingga memungkinkan untuk diliput.

"Biasanya pada sidang putusan sifatnya terbuka untuk umum," ujarnya.

Terpisah, Humas Pengadilan Negeri (PN) Cianjur, Erlinawati tidak bisa menjelaskan panjang lebar terkait kasus tersebut, karena pada kasus asusila anak dibawah umurnya sifatnya tertutup untuk umum.

"Karena ini kasus perlindungan anak da rambu-rambu yang harus diikuti, ada pengkhususan dalam persidangan, ada pengkhususan dalam penguploadan, tidak bisa vulgar membuka informasi, karena memang seperti itu aturannya dan itu wajib diikuti," jelasnya.

Ditanya terkait terdakwa yang rumornya orang berpengaruh, Erlinawati malah tidak mengetahuinya. Ia memastikan dalam kasus apapun itu sama, tidak ada namanya orang berpengaruh.

"Di mata hukum semua orang sama," tegasnya.

Ditanya apakaj nantinya rumor itu akanempengaruhi putusan, Erlinawati memastikan tidak ada hal yang seperti itu. Tetap pada proses, pada pembuktian, bagamana nanti hasilnya tidak akan jauh dari pembuktian dalam persidangan.

"Karena kebenarannya dalam perkara pidana perkara materiil yang kita cari. Itu juga ada keyakinan, mungkin tidak disitu bahwa benar terjadi perbuatan itu," terangnya.

Terkait nanti putusan yang akan diambil hakim, Erlinawati memastikan hakim dalam memutuskan tidak terikat dengan tuntutan atau pembelaan. Intinya seluruh keterangan dan bukti dalam persidangan akan menjadi pertimbangan hakim dalam memutuskan, ada hal yang meringankan dan ada hal yang memberatkan.

"Rasa adil itu tidak dapat disama rasakan, pasalnya adil menurut saya belum tentu adil menurut anda. Begitu pula pada kasus ini adil menurut terdakwa yanh diwakili kuasa hukumnya dan adil menurut JPU yang mewakili korban pasti berbeda-beda," bebernya.

Sebelumnya diberitakan, Oknum calon pendeta di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Timothy Luke Saputra (TLS) telah menjadi tersangka dugaan sodomi 7 anak di bawah umur dan sidangnya akan segera dimulai Agustus ini. Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, keluarga korban merasa perlu mengadakan konferensi pers (Konpers), lantaran pelaku rumornya mengaku sebagai Penasehat Spiritual Istana, sehingga perlu mengklarifikasi kepada pejabat yang dimaksud.

Konfres digelar di salah satu kafe di Panembong, Kecamatan Cianjur, Kamis (25/7/2019). Keluarga korban diwakili oleh Kuasa Hukum korban, Abdurachman Syarief dan Direktur Investigasi Indonesia Law Enforcement (ILE), Bagus Taradipa. Keduanya berencana mengklarifikasi kebenaran hal tersebut.

Kuasa Hukum korban, Abdurachman Syarif mengatakan tersangka dijerat Pasal 81 ayat (1), ayat (2), ayat (4), Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto Pasal 76 huruf e Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan Undang-undang Perlindungan Anak dengan ancaman 15 tahun. Ia juga menjelaskan tersangka bukan seorang pendeta tetapi kemungkinan calon pendeta, karena tidak memiliki legalitas sebagai seorang pendeta pada umumnya. 

“Kalau pendeta itu itu ada syarat-syaratnya, tapi setahu saya dia (tersangka, red) itu tidak ada, jadi calon pendeta,” ucapnya.

Syarief mengungkapkan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pelaku dilakukan pada beberapa anak sejak masih SD (sekolah Dasar). Diperkirakan sudah terjadi sejak 2014 lalu dan baru terungkap bulan April 2019 kemarin.

“Kami akan kawal persidangannya, kemungkinan hari Kamis Agustus, di Pengadilan Negeri Cianjur,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Tim Nawacita Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi), Ruri Jumar Saef mewakili Joko Daryanto yang merupakan adik kandung Presiden Jokowi memastikan Presiden tidak pernah melakukan intervensi terhadap hukum. Hal itu diungkapkannya saat mengetahui adanya kabar seseorang yang sudah bersatus tersangka mengaku sebagai Penasehat Spiritual Istana.

“Ada banyak orang yang mengaku sahabat, teman dekat, keluarga, guru spritual kepada jokowi sebagai Presiden seluruh rakyat Indonesia,” ungkapnya saat dihubungi melalui nomor pribadinya, Kamis (25/7/2019).

Menurut Ruri, hal itu sengaja dilakukan oleh oknum tidak bertanggungjawab yang menjual nama Jokowi untuk mendapatkan proyek atau mau menghindar dari permasalahan hukum. Ruri memastikan beliau sebagai Presiden tidak pernah akan membela, apalagi menghalang-halangi proses hukum apabila terjadi di dalam keluarganya.

“Apalagi ada orang yang mengaku-ngaku sebagai guru spritual,” tuturnya.

Ruri menegaskan jika memang terbukti telah melanggar hukum tidak ada pengecualian. Siapapun itu harus menghormati hukum, tidak ada keberpihakan pada tersangka atau terdakwa kejahatan.

“Apalagi terkait kejahatan moral kemanusiaan. Hukum sesuai peraturan yang berlaku,” tegasnya. (wan)



Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Semua Komentar

Komentar