IRM Bersikukuh Tak Tahu Menahu, JPU KPK Buka Dua Sadapan Percakapan

IRM Bersikukuh Tak Tahu Menahu, JPU KPK Buka Dua Sadapan Percakapan

Foto : Bupati Non Aktif Kabupaten Cianjur, Irvan Rivano Muchtar (IRM) saat bersaksi di sidang lanjutan kasus korupsi DAK, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Bandung, Senin (8/7/2019).



BANDUNG. Maharnews.com - Bupati Cianjur nonaktif, Irvan Rivano Muchtar (IRM) dalam sidang lanjutan korupsi DAK Cianjur, bersikukuh tidak mengetahui atau mendengar adanya potongan DAK, di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin lalu (8/7/2019). Alhasil, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka rekaman percakapan yang terdengar seperti hasil sadapan telepon IRM.

“Saya mohon yang mulia, untuk mendengarkan percakapan,” ucap Ali Fikri, JPU KPK saat meminta izin kepada Hakim ketua, karena rekaman percakapan itu tidak masuk dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saksi.

Usai memperdengarkan rekaman percakapan, JPU KPK langsung bertanya kepada saksi terkait suara rekaman tersebut.

“OK saudara saksi (IRM, red), anda berbicara dengan siapa ini?,” tanyanya.

Tak butuh waktu, IRM secara tegas menjawab bahwa rekaman percakapan itu merupakan dirinya dengan ayahnya, Tjetjep Muchtar Soleh (TMS). Ia menerangkan inti percakapan itu untuk berhati-hati dan konsultasi agar jangan terjadi hal yang tidak diharapkan di Dinas.

“Terus saya lanjuti, saat itu dengan membuat fakta integritas,” terangnya.

JPU KPK kembali mempertanyakan, dalam rekaman percakapan itu, situasi apa yang dimaksud kepada saksi. 

“Situasi apa yang saudara tanyakan ke pak Tjetjep saat itu ?, dalam percakapan 16 September 2018,” tanya JPU KPK.

IRM mengaku pada saat itu dirinya tidak mengetahui ada permasalahan hanya sebatas obrolan ayah dan anak. 

“Saya tidak tahu ada apa permasalahannya, hanya seperti itu saja, jadi saya kan bingung ada apa,” ucapnya.

Jawaban itu hanya ditanggapi ringan oleh JPU KPK, “Ooo... begitu ya, OK,”. Seperti tak mendapatkan jawaban yang diharapkan, Ali Fikri meminta IRM untuk mendengarkan rekaman percakapan lainnya.

“Kemudian, sekali lagi saudara saya mohon untuk mendengarkan,” ujarnya.

Usai memperdengarkan rekaman percakapan yang kedua, JPU KPK kembali bertanya kepada IRM dengan siapa dirinya berbicara.

“OK, saudara masih ingat percakapan siapa dengan siapa?,” tanya JPU KPK. 

Berbeda dengan rekaman awal, IRM butuh waktu beberapa detik untuk mengingat lawan bicaranya dalam rekaman itu. Seingatnya, lawan bicara dalam rekaman percakapan di telepon itu adalah temannya.

JPU KPK merangkum hasil rekaman kedua, dimana intinya ada menyebut nama Tubagus Cepy, ganti nomor HP (handphone), bahkan ada kata sadap. Padahal jika melihat waktu rekaman percakapan itu didapatkan masih bulan September 2018.

Menurut IRM, inti pembicaraan tersebut hanya sekedar memberikan informasi terkait situasi dan beberapa hal lainnya.

“informasi terkait situasi seperti ini, genting dan sebagainya, kaitan dengan HP dengan Cepy, tapi karena saya tida ada perasaan bersalah waktu itu, jadi tidak berpikir ganti nomor HP,” sebutnya.

JPU KPK memotong jawaban IRM, karena bukan ganti nomor HP yang menjadi inti masalah. Tetapi yang menjadi masalah adalah pengetahuan saksi terkait situasi, nama Tubagus Cepy dan lainnya.

“Dalam pembicaraan itu, sebelumnya saudara itu tahu tidak tentang situasi antara bulan Mei sampai Desember 2018 itu ada situasi-situasi tadi. Diantaranya anda lalai mengevaluasi Rosidin, adanya pengumpulan-pengumpulan dana yang sudah diketahui oleh umum saat itu. Nggak tau sama sekali?,” tuturnya.

IRM dengan tegas menjawab bahwa sama sekali tidak mengetahui hal tersebut. Minimal mendengar rumor pun ia tak tahu, menerima laporan lisan maupun tertulis dari CS pun tidak ada. Ia bahkan berani bersumpah berkali-kali terkait ketidaktahuannya.

“Demi Allah saya tidak tahu, Demi Allah Rasululloh,” tegas IRM. (wan)
 



Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Semua Komentar

Komentar