Kembali Warga Cianjur Diduga Menjadi Korban Trafficking

Kembali Warga Cianjur Diduga Menjadi Korban Trafficking

CIANJUR. Maharnews.com – Hukuman yang berat bagi pelaku kejahatan perdagangan manusia (trafficking) sepertinya tidak membuat gentar. Pasalnya, meski telah diatur dalam Undang Undang  21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, masih saja oknum tidak bertanggung jawab mencari mangsa.

Rima Setiawati (19), anak perempuan pertama dari pasangan suami istri Ujang Saepudin (38 tahun) dan Aisah(35) yang beralamat di Kampung Tugusari RT 02 RW 18 Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur diduga menjadi korban trafficking ke Negera Malaysia. Hal itu diungkapkan Ketua Divisi Hukum DPC Astakira Pembaharuan Kabupaten Cianjur Topan Nugraha SH.

“Kami akan segera menindaklanjuti perkara tersebut sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Negara Indonesia. Apalagi belakangan ini di Kabupaten Cianjur marak kejadian perdagangan orang berkedok tenaga kerja,” ungkapnya.

Menurut Hendra, perkara tersebut diduga sudah masuk kejahatan murni yang wajib diawasi secara bersama-sama bahkan oleh stake holder lainnya. Namun untuk memberi efek jera terhadap pelaku Tindak pidana perdangan orang (TPPO)  pihaknya tidak akan segan-segan membawa perkara tersebut keranah pidana. 

“Pihak kami tidak akan mentelolir terhadap para pelaku human trafficking di Cianjur. Kami pasti akan melaporkan kepihak kepolisian supaya tidak ada kejadian serupa,” tegasnya.

Sementara, Ayah korban, Ujang menuturkan anaknya (Rima) berangkat ke Negeri Jiran pada 28 Desember 2018 lalu yang diduga menggunakan jalur tidak resmi (ilegal) oleh oknum petugas rekrut berinisial (UL) asal Kabupaten Bandung. 

“Iya sponsor itu datang kerumah diantar oleh saudara untuk membujuk anak saya untuk bekerja di Malasyia,” tuturnya saat ditemui di Kantor DPC Astakira Pembaharuan Kabupaten Cianjur.

Ujang menyebut sponsor yang akrab disapa Umi itu, awalnya menawarkan Rima untuk menjadi pelayan toko di Malaysia dengan gaji sangat menggiurkan. Tetapi bukannya pekerjaan yang dijanjikan yang didapat melainkan putrinya dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

“Khawatirnya anak saya itu dipindah majikan terus. Bahkan Rima pernah menelepon dia tidak dibuatkan paspor. Keluarga berharap Rima dapat segera kembali ke rumah dengan selamat,” sebutnya. 

Terpisah, PLt Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupten Cianjur, Heri Suparjo telah mengetahui info tersebut melalui media sosial (medsos). Ia mengucapkan terima kasih kepada Astakira yang menjadi mitra kerja Disnakertrans.

“Kami menunggu laporan resmi dari korban, memang sinyalemen ke arah itu memang ada. Kita tunggu laporan resmi dulu,” ucapnya saat ditemui seusai sidang peripurna di gedung wakil rakyat, Selasa (11/6/2019).

Heri mengingatkan kepada para pengusaha dalam menjalankan operasionalnya harus mematuhi aturan dan prosedural yang berlaku, jangan hanya mengejar keuntungan. Selain itu, fungsi pengawasan dalam setiap perekrutan harus ada rekomendasi dari Disnakertrans Cianjur.

“Sehingga bagi keluarga, pemerintah setempat, dari RT, RW maupun pak Kades untuk berhati-hati dan jangan ragu untuk mempertanyakan rekomendasi dari Disnakertrans terkait perekrutan. Jika ada berarti legal jika tidak ada berarti ilegal, jika perlu melapor ke kami sehingga bisa langsung ditindaklanjuti jika merasa ragu keasliannya,” terangnya. (wan)



Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Semua Komentar

Komentar