Mungkinkah Masyarakat Cianjur Bebas Makanan Berformalin atau Borax? - Bagian 1

Mungkinkah Masyarakat Cianjur Bebas Makanan Berformalin atau Borax? - Bagian 1

Foto : Ilustrasi (sumber: net)



CIANJUR. Maharnews.com - Kasus mie berformalin yang diungkap Polda Jabar beberapa minggu lalu di Kabupaten Cianjur menjadi bahan pembicaraan. Alhasil, muncul pertanyaan, mungkinkah masyarakat Cianjur bebas dari makanan berformalin atau Borax?.

Mencoba mencari jawaban, maharnews melakukan investigasi langsung ke lapangan. Tak satupun dari narasumber yang ditemui mampu menjawab pertanyaan itu.

Di masyarakat sendiri formalin dalam makanan sangat sulit dideteksi, karenan minimnya pengetahuan terkait cara mendeteksi atau membedakan ciri-ciri makanan yang mengandung zat tersebut. Namun beberapa narasumber memastikan untuk formalin atau borax umumnya digunakan pada produk atau bahan makanan jadi seperti mie, tahu, ikan bahkan pada produk daging seperti ayam dan sapi. Tujuannya tidak lain untuk mengawetkan makanan sehingga tidak mudah basi atau rusak.

Meski begitu pewarta menemukan fakta yang mencengangkan. Borax di masyarakat awam biasa diperjualbelikan secara umum di warung-warung kecil dengan nama pijer. Di kantongi plastik kecil seperti bumbu dapur, pijer dapat dibeli hanya dengan harga seribu rupiah.

Seorang warga yang ditemui mengaku sepengetahuannya bahwa pijer merupakan bumbu dapur bukan borax seperti yang ramai jadi bahan pembicaraan. Kegunaan pijer biasanya digunakan menjadi salah satu bahan pembuatan leupeut (seperti lontong, dibungkus daun pisang yang berbahan dasar beras hanya ukurannya lebih kecil).

"Kalau pakai pijer, tekstur leupeutnya lebih peungkeur (bahasa Sunda, kenyal, red) dan awet untuk beberapa hari," ungkap warga tersebut yang mengaku berasal dari Kecamatan Cilaku dan tidak ingin namanya dicantumkan dalam pemberitaan, Rabu (26/9/2019).

Lebih mengherankan lagi, pengakuan warga itu, produk leupeut yang menggunakan pijer bukan untuk dijual kembali, tetapi hanya konsumsi keluarga. Ia bahkan kaget saat diberitahukan pewarta bahwa pijer tersebut adalah borax yang selama ini ramai di pemberitaan.

Kembali ke kota, merasa belum mendapatkan jawaban pasti, maharnews mendatangi kantor Dinas Koperasi Usaha Kecil Dan Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (Diskoperindag) Kabupaten Cianjur. Langkah kaki pewarta langsung menuju ruang kantor kepala dinas yang berada tepat di kiri pojok sesaat setelah pintu masuk kantor Diskoperindag.

Kepala Diskoperindag, Himam Haris mengaku kewenangan pengawasan dinas yang dipimpinnya hanya berwenang pada pada barang yang bersubsidi, di luar itu kewenangan pemgawasa ada di dinas provinsi. Tetapi, dinas tidak tinggal diam, terkadang dinasnya juga bekerjasama dengan dinas kesehatan untuk melakukan pengawasan.

"Misal ada informasi ada barang yang diindikasi mengandung formalin atau borax yang beredar di masyarakat, Kita pasti terjun ke lapangan," ucapnya, Selasa (24/9/2019).

Menurut Himam, dinasnya sering melakukan uji laboratorium terkait bahan pemgawet berbahaya tersebut. Terutama mendekati hari-hari besar.

"Seperti hari natal, lebaran. Biasanya kita melakukan pengecekan," sebutnya.

Ditanya penegasan terkait dapat terulangnya kasus bahan makanan berformalin atau borax, Himam menyatakan sangat mungkin terulang.

"Sangat mungkin. Karena mereka yang melakukan kegiatan (mencampur makanan dengam formalin atau borax, red) bukan orang asli Cianjur," tegasnya.

Himam menerangkan dua kali pengalaman dinasnya, yaitu kasus bakso dan mie berformalin, pemiliknya orang Bandung yang bermasalah. Akhirnya pindah dan beroperasi di Cianjur tanpa izin.

"Yang kemarin (mie berformalin, red) juga lokasinya terpencil dan tak memiliki izin baik dari desa atau dinas. Informasinya, itu juga hanya gudang dan bukan tempat produksi, hanya tempat penyimpanan," terangnya.

Setelah ada temuan itu, Himam mengatakan pemerintah telah membuat surat edaran yang ditandatangani Bupati untuk kecamatan dan desa. Isinya agar setiap camat atau kepala desa harus mendata industri yang beroperasi di wilayahnya.

"Jangan sampai kejadian terulang, baik itu pabrik atau hanya gudang penyimpanan harus di data," pungkasnya.

Berdasarkan hasil penelusuran maharnews, belum ada titik terang terkait akan bebasnya masyarakat Cianjur dari Makanan berformalin dan borax. Kendati demikian, berbagai tindakan preventif terus dilakukan oleh pemerintah guna meminimalisir beredarnya makanan yang mengandung zat yang membahayakan kesehatan tersebut.

Peran serta masyarakat menjadi salah satu poin penting dalam menekan peredarannya. Tuntutan tak tertulis agar masyarakat menjadi konsumen cerdas menjadi kewajiban seluruh pihak (bersambung). (wan)



Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Semua Komentar

Komentar