Perjuangkan Hak Warga Kampung Panyaweuyan, Nenek Ihat Demo Kantor DLH

Perjuangkan Hak Warga Kampung Panyaweuyan,  Nenek Ihat Demo Kantor DLH

Foto : Mengenakan kerudung panjang warna coklat, Nenek Ihat (69) turut melakukan aksiunjukrasa di kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur bersama warga Kampung Panyaweuyan, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Selasa (23/7/2019).


 CIANJUR.Maharnews.com- Wajah yang sudah keriput dengan postur badan yang tidak tegap lagi tak menjadi penghalang Nenek Ihat untuk berunjukrasa ke kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cianjur.

Wanita tua berusia 69 tahun asal Kampung Panyaweuyan, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet itu terlihat begitu semangat ikut menyuarakan tuntutan terhadap pemerintah, yang dianggapnya lamban menyikapi keluh kesah warga kampung halamannya.

Tak ada rasa minder atau takut sedikitpun tersirat di raut wajahnya. Seolah ingin menunjukan tak ingin kalah dari para pengunjukrasa yang usianya masih muda, Ihat dengan lantang mengungkapkan keinginannya. 

"Ibu mah hayang cai  sumurdi lembur siga saperti nu awal deui (Ibu cuma ingin air sumur di kampung seperti yang dulu),"kata Ihat saat ditemui disela aksi unjukrasa, Selasa (23/7/2019).

Kepada wartawan Ihat mengaku dirinya tidak takut sedikitpun untuk menyuarakan kekesalannya terhadap pemerintah. .

 "Naon make kudu sieun, da ibumah merjuangkeun hak, hayang cai sumur di lembur siga anu awal deui, teu tercemar (Kenapa mesti takut, ibukan memperjuangkan hak, ingin air sumur di kampung seperti dulu lagi, tidak tercemar),"tegasnya seraya berharap penyebab air sumur tercemar bisa segera terungkap.

Puluhan warga Kampung Panyaweuyan, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur berunjukrasa di kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Unjukrasa dipicu kekecewaan warga terhadap pihak dinas yang dinilai lamban dan plinplan dalam melakukan pengusutan penyebab tercemarnya sumur warga.

Informasi dihimpun, sumur warga yang biasa digunakan sehari-hari untuk minum dan mandi tercemar. Mereka  merasakan adanya perubahan bau dan rasa yang tidak sedap seperti bau bensin. Kondisi itu terjadi sejak tanggal 10 Mei 2019 lalu.

Menanggapi desakan pengunjukrasa, Kepala Bidang (Kabid) Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) DLH Endang mengatakan pihaknya sudah melakukan penelitian dan menguji sample air dan hasilnya memang terindikasi tercemar. Bahkan terkait itu dinas sudah melakukan konsultasi dengan DLH Provinsi Jabar.

“Tapi untuk sumber pencemarannya, kami belum bisa menentukan, mohon kami diberi waktu untuk melakukan penelitian. Pada prinsipnya, kami mengutamakan kepentingan masyarakat. Aspirasi yang disampaikan sudah kami dengar dan akan kami sampaikan kempimpinan,” ujar Endang. (Nuk)



Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Semua Komentar

Komentar