Ngopi Sembari Update Informasi - Berita

Berdiri Di Tengah Badai, Camat Pasirkuda Pertahankan Kedamaian Hingga Darah Pengabdian Tumpah

Berdiri Di Tengah Badai, Camat Pasirkuda Pertahankan Kedamaian Hingga Darah Pengabdian Tumpah

Foto : Camat Pasirkuda, Mokhamad Irfan Sofyan saat menjalani perawatan medis


CIANJUR.maharnews.com - Sejak 14 Mei 2025, langkah pertama Mokhamad Irfan Sofyan sebagai Camat Pasirkuda adalah menyapa. Satu bulan penuh ia menyusuri sembilan desa, mendengar harapan warga. Di antara segala kebutuhan yang diutarakan, satu mimpi terus bergema pertandingan sepakbola antar-desa, pesta persaudaraan yang sudah lama dinantikan rakyat dan para kepala desa.
 
Satu tahun ia merenung, berkoordinasi, menyusun rencana. Hingga akhirnya keinginan itu dikabulkan, lahirlah Camat Cup, bertepatan dengan ulang tahun ke-18 Kecamatan Pasirkuda.
 
Ia pun mengumpulkan seluruh elemen negeri di akar rumput, para kepala desa, ormas, pemuda, tokoh masyarakat, didampingi TNI, Polri, dan Forkopimcam. Bukan sekali atau dua kali rapat digelar berkali-kali, agar semuanya matang, agar damai, agar olahraga menjadi jembatan, bukan tembok. Pengurus pun terbentuk, dari rakyat untuk rakyat.
 
4 September 2026, turnamen dimulai. Lapangan Desa Kalibaru menyambut babak awal, lalu lapangan Adimukti Desa Pusakajaya menjadi panggung empat besar hingga puncak. 1 Oktober, Grand Final tiba antara kesebelasan Desa Simpang berhadapan dengan Desa Kalibaru.

Miskomunikasi sempat memanaskan suasana, namun dilerai. Di babak kedua, amarah kembali meletup. Dengan sisa waktu 19 menit, Camat dan panitia bertekad tegas pertandingan dihentikan. Lebih baik mengakhiri lebih awal daripada mengorbankan kedamaian.
 
Namun gelombang tak surut. Kabar penyekatan jalan menyebar, dua kubu suporter bergerak saling mendekat. Camat Irfan segera berkoordinasi dengan aparat keamanan, lalu melangkah ke tengah menghadang dengan kendaraannya, namun amarah tak surut. Batu dan petasan beterbangan.
 
Di saat itulah, bersama satu anggota PolPP, ia berdiri tegak di tengah badai. Menghadapi dua kubu yang saling melempar, ia tak mundur, ia maju. Menempatkan tubuhnya sebagai perisai, agar tak ada warga yang jatuh.
 
Batu menghantamnya. Ia tersungkur di tanah yang ia jaga, kaki kanan patah, kaki kiri robek hingga harus dijahit, tubuh terkulai tak sadarkan diri. Darah pengabdian tumpah di lapangan yang seharusnya menyuguhkan kegembiraan.
 
Akhirnya aparat tiba, ketenangan kembali. Pelaku provokasi diamankan. Tak ada warga lain yang terluka parah karena pemimpin mereka yang menanggung luka itu sendiri.
 
Pasukan gabungan dari berbagai penjuru menggelar patroli dan apel bersama di depan kantor kecamatan. Perlahan, Pasirkuda kembali tenang.
 



Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Bijaksana dan bertanggung jawablah dalam berkomentar, karena sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE