Sahh !! Mang Uden, Nakhoda Baru BAZNAS Cianjur

Foto : Bupati Cianjur M Wahyu Ferdian melantik KH Deni Saeful Rohman atau yang akrab dikenal Ustadz Deni (Uden) bersama jajaran sebagai Ketua dan Pengurus BAZNAS Kabupaten Cianjur, Jumat 25 September 2026 di Pendopo Pancaniti Cianjur. Sumber foto Prokopim Cianjur
Maharnews.com- Ada orang yang tumbuh dari jabatan. Ada yang tumbuh dari organisasi. Ada pula yang tumbuh dari silaturahmi. KH Deni Saeful Rohman atau yang akrab dikenal Ustadz Deni (Uden), tampaknya lebih dekat dengan kelompok terakhir.
Kini Mang Uden mendapat ruang baru setelah dipercaya menjadi Ketua Badan Amil Zakat Nasional BAZNAS Kabupaten Cianjur. Namun membaca Uden hanya dari jabatan barunya, ibarat membaca kitab dari sampulnya.
Ada halaman panjang sebelumnya: pesantren, alumni, perjumpaan, dan jaringan yang dibangun bertahun-tahun.
Uden dikenal aktif membangun komunikasi dengan jaringan alumni Miftahul Huda Tasikmalaya. Di lingkungan pesantren, relasi tidak berhenti ketika seorang santri meninggalkan pondok.
Ia bisa berkembang menjadi jaringan pengajian, persaudaraan alumni, kerja sosial hingga jejaring komunikasi yang luas.
Di Cianjur, pesantren bukan hanya ruang pendidikan agama, tetapi juga ruang sosial tempat kepercayaan dan silaturahmi tumbuh.
Ada pula lapisan lain yang menarik, yakni kedekatan Uden dengan keluarga besar BLK dan lingkungan padepokan almarhum TMS.
Kedekatan sosial tentu tidak otomatis berarti hubungan politik. Bisa lahir dari persahabatan, keluarga, guru, maupun sejarah pergaulan.
Namun dalam kultur sosial Cianjur yang begitu rapat, relasi antarmanusia menjadi bagian penting dari perjalanan seseorang.
Kini dua dunia itu bertemu di BAZNAS: jaringan pesantren dan jejaring sosial yang bersinggungan dengan lingkungan kekuasaan lokal.
Pertanyaannya bukan sekadar siapa yang dikenal Uden, melainkan untuk apa jaringan itu digunakan.
Sebab BAZNAS bukan forum alumni. Di sana ada dana umat, zakat, infak dan sedekah. Ada amanah muzaki dan hak para mustahik.
Laporan BAZNAS mencatat penghimpunan ZIS Kabupaten Cianjur pada 2024 sekitar Rp29,04 miliar. Angka itu menunjukkan bahwa jabatan Ketua BAZNAS bukan sekadar kursi organisasi, melainkan posisi yang bertumpu pada kepercayaan publik.
Karena itu, jaringan yang dimiliki Uden sekaligus menjadi modal dan ujian.
Jaringan pesantren adalah modal. Alumni adalah modal. Hubungan baik dengan berbagai kalangan juga modal. Tetapi semuanya pada akhirnya harus tunduk pada satu hal: tata kelola.
Apakah BAZNAS akan semakin terbuka? Apakah masyarakat mudah mengetahui ke mana dana zakat disalurkan? Apakah mustahik memperoleh manfaat nyata? Dan apakah hubungan dengan pemerintah daerah tetap berada dalam koridor kelembagaan?
Sebab zakat bukan anggaran pemerintah dan bukan pula milik pengurus. Zakat adalah amanah masyarakat.
Di sinilah perjalanan Uden menarik untuk diikuti. Bukan lagi soal seberapa luas jaringan yang dimilikinya, tetapi seberapa kuat ia menjaga amanah ketika jaringan itu berada di sekelilingnya.
Orang boleh dekat. Tetapi kepentingan umat harus tetap lebih dekat.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan terlalu sibuk mencatat siapa yang pernah dekat dengan Uden. Sejarah akan lebih tertarik mencatat: ketika uang umat berada di tangannya, siapa yang akhirnya menjadi lebih berdaya.
- Jumat Berkah: Sepiring Nasi, Sejuta Doa di Jalan Siliwangi
- Maulid Nabi: Cahaya yang Tak Pernah Padam di Tanah Mayak
- Keadilan Mulai Digerakkan: Wakil Ketua DPRD Cianjur Sorot Utang Pasca Bencana Cikangkareng
- 13 Tahun Menanti, Putusan Inkrah Diabaikan: Pemkab Cianjur Tak Mau Bayar Utang Rp4,5 Miliar ke Pengusaha
- "Minuman Setan" Maut di Cianjur: 4 Nyawa Melayang, Termasuk Remaja - 2 Lainnya Berjuang Bertahan Hidup
- Semangat & Ksatria: Cianjur Karate Championship 2026 Membara di GGM
- Jum'at Berkah: Golkar Cianjur Tebar Kebaikan di Jantung Kota













