Tragedi NTT, Jim : Pendidikan Di Kabupaten Cianjur Harus Pedagogi Welas Asih

Foto : Koordinator presidium JIM Cianjur Alief Irfan
CIANUUR.maharnews.com - Fenomena memilukan menyayat hati datang dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTN), dimana seorang siswa klas IV sekolah dasar (SD) dikabarkan bunuh diri, karena kecewa tak dibelikan buku dan pulpen.
Tragedi ini tidak hanya menjadi pusat perhatian jutaan masyarakat indonesia, namun juga menjadi tamparan keras bagi para pemimpin negeri ini.
Rakyat mendesak negara untuk tidak lagi bersikap pasif dan membiarkan anak memikul beban hidup melampaui kapasitas usia mereka dari perspektif sosiologis. Ini adalah cermin kegagalan sistem sosial dalam melindungi anak sebagai kelompok paling rentan?
Presedium Jariangan Intelektual Muda (JIM) Cianjur angkat suara dan meminta Dinas Pendidikan Pemudan, dan Olahraga (Disdikpora) untuk memastikan Pendidikan di Kabupaten Cianjut harus Pedagogi Welas Asih.
"Baru baru ini sedang ramai terkait Kematian seorang anak sekolah dasar akibat bunuh diri, hal tersebut bukan sekadar tragedi keluarga, Hal ini sinyal bahaya sistemik bagi dunia pendidikan kita, Khususnya di Kabupaten Cianjur," ujar koordinator Presedium JIM Alief Irfan, Kamis 5 Februari 2026.
Ia mengatakan bahwa fenomena ini memaksa jutaan masyarakat untuk bertanya?. Mengapa anak-anak yang seharusnya sedang berada di puncak fase bermain justru merasa hidup adalah beban yang tak tertahankan.
Disdikpora Cianjur, kata Alief, harus memastikan Bahawa Sekolah idealnya menjadi ruang aman (safe space). Namun, realitanya banyak SD yang kini terjebak dalam, Standardisasi Akademik yang Kaku, Fokus berlebih pada nilai dan kompetensi kognitif seringkali mengabaikan kematangan emosional.
"Kurikulum yang Padat merupakan hal, Anak kehilangan waktu untuk eksplorasi diri karena jadwal belajar yang terlalu mengekang," imbuhnya.
Krisis Kesehatan Mental dan Literasi Emosi, Pendidikan kita sangat mahir mengajarkan matematika dan sains, namun seringkali gagal mengajarkan resiliensi (ketangguhan).
"Ketidakmampuan Mengelola Kegagalan Anak-anak seringkali tidak diajarkan cara memproses rasa kecewa, sedih, atau malu, Minimnya Tenaga Profesional, Keberadaan Guru BK (Bimbingan Konseling) di tingkat SD masih dianggap "pelengkap" atau bahkan sosok yang menakutkan, bukan sahabat tempat bercerita," beber Alief.
Alief menegaskan bahwa kita butuh revolusi paradigma dalam pendidikan, Kurikulum Kesejahteraan (Well-being), Menjadikan kesehatan mental sebagai bagian dari kurikulum, bukan sekadar materi tambahan, Kemitraan Orang Tua-Sekolah, Sekolah tidak boleh menjadi "tempat penitipan.
"Harus ada komunikasi dua arah yang mendalam untuk mendeteksi perubahan perilaku anak sekecil apa pun, Hapus Stigma. Mengajarkan anak bahwa meminta bantuan saat merasa sedih adalah bentuk keberanian, bukan kelemahan," pungkasnya.
Baca
- Temukan Dua Kejanggalan, PPGH Siap Bongkar Dugaan Manipulasi
- Serap Aspirasi, Rustam : Warga Keluhkan Jalan Rusak dan Akses Kesehatan
- Ancang-Ancang!! DPD Nasdem Cianjur Lantik 32 Pengurus DPC
- Kader Megawati Murka!! Segera Evaluasi Dapur MBG Secara Menyeluruh
- Kurang Dari 3 Jam, Polsek Tanggeung Ringkus Pelaku Pengeroyokan Kurir Paket, Dewan : Luar biasa!!
- Jamaras Agro Farm Terancam Disegel
- Sadis! Kurir Spx Express Dikeroyok OTK, Dewan : Segera Tangkap Pelaku
Berita Terkait
Tulis Komentar Facebook
Komentar Facebook
Kembali ke Home














