Ngopi Sembari Update Informasi - Berita

Rumah Sakit Tanpa Kelas Kasusnya Berkelas (1)

Rumah Sakit Tanpa Kelas Kasusnya Berkelas (1)

Foto : Foto istimewa


CIANJUR.Maharnews.com- Rumah sakit ini awalnya merupakan Puskesmas Pagelaran yang berdiri pada tahun 1952. 

Sebelum beroperasi sebagai Puskemas, bangunan seluas 86 m2 di jalan Pagelaran, Desa Pagelaran itu digunakan sebagai Balai Pengobatan Pagelaran dengan jumlah personil petugas hanya 4 orang, sedangkan dokternya berkunjung 1 (satu) bulan sekali.

Seiring dengan waktu, Puskemas Pagelaran semakin berkembang. Hingga kurun waktu tahun 1991 perkembangannya semakin pesat, Puskesmas Pagelaran menambah pelayanan dengan tempat perawatan dan menerima persalinan.

Tahun 2015, Puskesmas Pagelaran kembali mengalami perubahan. Hal tersebut seiring dengan demand atau kebutuhan masyarakat Cianjur Selatan akan kebutuhan pelayanan kesehatan rujukan spesialistic.

Puskesmas DTP Pagelaran dikembangkan menjadi RSUD Pagelaran dengan ijin mendirikan No. 504/RSU BPPTPM/2015 dan ijin operasional No. 503/5943/RSU-Operasional/BPPTPM/2016 tentang penetapan klasifikasi dan ijin operasional RSUD Pagelaran Kabupaten Cianjur dengan wilayah kerja 14 desa. 

RSUD Pagelaran dengan pelayanan unggulan yaitu Rumah Sakit Tanpa Kelas diresmikan Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar pada tanggal 26 Mei 2016.

Sedot Anggaran Puluhan Miliar

Pembangunan RSUD Pagelaran berlangsung pada masa pemerintahan Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh, yaitu sekitar kurun waktu tahun 2010-2015. 

Berdasarkan penelusuran Maharnews.com, selama 2012-2015, luncuran dana pemerintah untuk mendukung pembangunan rumah sakit tanpa kelas tersebut mencapai kurang lebih Rp27,625 miliar.

Luncuran dana untuk pembangunan RSUD Pagelaran terus berlanjut hingga masa pemerintahan Bupati Irvan Rivano Muchtar. Total dana yang diluncurkan selama kurun waktu 2016-2017 mencapai Rp8,6 miliar.

Pergantian Pucuk Pimpinan

Pasca diresmikan oleh Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar pada tahun 2016. dr Neneng Eva Fatimah didaulat menjadi orang pertama memimpin jalannya RSUD Pagelaran. Kartini asal Cianjur itu menjabat sebagai Direktur Utama RSUD Pagelaran.

Perjalanannya memimpin RSUD Pagelaran tidaklah mulus. Persoalan demi persoalan muncul ditengah masa kepimpinannya. Puncaknya terjadi pada bulan Juli tahun 2017 yaitu sebuah aksi unjuk rasa dari kalangan masyarakat ke kantor Pemkab Cianjur. 

Kedatangan massa tersebut meminta Bupati segera mencopot Dirut RSUD Pagelaran Neneng Eva Fatimah dari jabatannya karena diduga bekerja menyalahi aturan.

Selang tiga bulan kemudian, Bupati akhirnya mengganti pucuk pimpinan RSUD Pagelaran. Bulan Oktober tahun 2017, posisi Direktur Utama RSUD Pagelaran resmi dijabat sosok dr Yusman Faisal. 

Semasa kepemimpinan dr Yusman, jalannya roda RSUD Pagelaran terbilang mulus. Bukan berarti sama sekali tidak ada persoalan, tapi ketika ada tidak lantas menyulut riak masyarakat. 

Meski mampu membawa suasana RSUD Pagelaran kondusif, kepemimpinannya di rumah sakit tanpa kelas itu tidak berlangsung lama, terhitung hanya 10 bulan. 

Bupati dengan hak preogratifnya menganti posisi Direktur Utama RSUD Pagelaran. Juli tahun 2018 posisi Direktur Utama RSUD Pagelaran resmi dijabat dr Awie Darwizar.

Semasa kepemimpinan dr Awie, kondisi internal RSUD Pagelaran berlangsung kurang kondusif. Tercatat ada dua persoalan internal yang mencuat dan menjadi sorotan publik. Termasuk persoalan kebijakan sang direktur utama yang akhirnya berujung ke ranah hukum.(BBS)




Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Bijaksana dan bertanggung jawablah dalam berkomentar, karena sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE