Ngopi Sembari Update Informasi - Berita

Gorol Tanpa Pengecualian !

Gorol Tanpa Pengecualian !

Maharnews.com- Di kota yang masih setia menghafal slogan gotong royong, “gorol” kini menemukan panggung barunya: bukan lagi di sawah, bukan pula di gang sempit saat membangun pos ronda, tapi di ruang-ruang sunyi menjelang audit. 

Dulu, gotong royong adalah soal tenaga dan pikiran. Sekarang, ia lebih sering diterjemahkan sebagai “urunan demi kelancaran.” Sukarela, tentu saja dengan sedikit penekanan di sana-sini.

Dari sinilah lahir jenis solidaritas baru: bukan untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi untuk “mengondisikan” hasil. 

Ketika audit datang, terutama yang konon menentukan apakah laporan keterangan pertanggungjawaban bisa diterima atau penyajian laporan keuangan bisa meraih predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), gorol naik kelas. 

Ia tidak lagi sekadar tradisi, melainkan strategi. Ada keyakinan yang beredar lirih: bahwa kewajaran kadang perlu “dibantu” agar benar-benar tampak wajar. 

Maka bergeraklah mekanisme yang rapi, nyaris tanpa bunyi. Dari satu meja ke meja lain, dari satu kepentingan ke kepentingan lain. Semuanya atas nama kelancaran. 

Di titik ini, gotong royong menjelma ironi yang sempurna. Ia tetap disebut sebagai kebersamaan, padahal yang dirawat adalah kesepahaman diam-diam. 

Ia tetap diklaim sebagai budaya luhur, meski praktiknya lebih dekat pada negosiasi tak tertulis. Bahkan, nilai “tanpa pengecualian” itu sendiri seolah menjadi hasil dari banyak pengecualian yang tidak pernah dicatat. 

Dan kita, seperti biasa, memilih untuk memahami tanpa perlu menjelaskan. Sebab di dalam sistem yang sudah saling mengerti, kejujuran sering kali terasa terlalu berisik. 

Akhirnya, gorol tetap hidup bukan sebagai semangat saling membantu, tapi sebagai seni menjaga agar segala sesuatu terlihat baik-baik saja.

Termasuk laporan yang, dengan penuh keyakinan, dinyatakan: wajar. Tanpa pengecualian.




Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Bijaksana dan bertanggung jawablah dalam berkomentar, karena sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE