Kang Haji Pelopori Pembibitan Umbi Porang di Cianjur

Kang Haji Pelopori Pembibitan Umbi Porang di Cianjur

Foto : Kang Haji Yandi pelopor pembibitan umbi porang di Kabupaten Cianjur


CIANJUR.Maharnews.com- Tanaman Porang atau yang dikenal juga iles-iles sejenia umbi-umbian dari spesies Amorphophallus Muelleri sebenarnya sudah ada sejak lama dan cukup populer di tengah masyarakat. 

Namun keberadaannya masih belum di manfaatkan dengan optimal, kurang dilirik oleh kalangan petani di Cianjur.

Padahal bisnis umbi porang terbilang cukup menjanjikan dan bisa diandalkan untuk menambah pundi pundi pendapatan. 

Peluang tersebut langsung dilirik Haji Yandi Sopiandi, salah seorang warga Desa Sindangasih, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur.


Peria yang akrab disapa Kang Haji itu pun langsung membuka lahan untuk pembibitan porang. Tak tanggung tanggung luasaan lahannyapun mencapai hektaran.

Kang Haji menuturkan, terjun ke dunia bisnis tanaman budi daya umbi porang bukan sekadar coba coba mengadu peruntungan nasib.

Ia mengaku untuk memantapkan hati terjun menjadi petani umbi porang terlebih dahulu melakukan kroscek informasi dan survey langsung ke lapangan.

"Tetep cari tahu dahulu informasinya biar yakin. Menelusuri soal umbi porang ini saya sampai ke daerah Bungbulang, Garut. Lalu lanjut ke daerah Jawa Timur, Madiun bertemu langsung dengan sosok petani sukses menanam umbi porang,"tutur Kang Haji saat ditemui di lokasi lahan pembibitan porang miliknya di Desa Sindangasih, Kamis (15/10/2020).


Saat ini ungkapnya, sudah ada empat lokasi yang dijadikan lahan pengembangan bibit umbi porang. Luasannya mencapai sekitar 5,4 hektare.

“Di Desa Sindangasih baru dikembangkan di lahan seluas 1 hektare,”imbuhnya.

Haji membeberkan, dari 1 hektare lahan, membutuhkan sekitar 40 ribu bibit atau biji tumbuhan porang. Ada tiga jenis bibit tumbuhan porang yaitu katak, umbi, dan polybag.

“Kalau mau irit, bisa menggunakan bibit jenis katak. Harga per kilogramnya sekitar Rp300 ribu yang isi 300 biji. Kalau untuk 1 hektare membutuhkan sebanyak 120 kilogram. Dihitung-hitung, untuk modal bibit hanya Rp40 juta,”ujarnya.


Untuk proses pemupukan, awalnya menggunakan kompos dari kotoran kambing. Estimasi volume penggunaannya di lahan 1 hektare sekitar 200 kilogram.

Selang sebulan kemudian setelah proses tanam, dilakukan lagi pemupukan kedua, itu juga masih menggunakan kompos kambing. 

"Pembibitan umbi porang dipastikan ramah lingkungan, karena pupuk yang digunakan adalah jenis organik,"terangnya.

Memasuki bulan kedua setelah tumbuh batang dan daun, kita gunakan pupuk kompos kotoran sapi. Karena ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan umbi. "Jadi ada dua macam pupuk kompos yang kami gunakan,"jelasnya.


Masa tanam tumbuhan porang biasanya pada Oktober atau November. Musim panennya diperkirakan pada Juni atau Juli.

“Saat panen akan diawali terjadinya dorman atau daun gugur dengan sendirinya. Kita diamkan selama 2 minggu. Setelah itu baru bisa dipanen,”jelasnya.

Sekarang ini harga jual umbi porang bisa mencapai kisaran Rp12 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. 

“Di Cariu, Bogor, harganya bisa mencapai Rp15 ribu per kilogram,” pungkasnya.




Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Bijaksana dan bertanggung jawablah dalam berkomentar, karena sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE