CIANJUR.maharnews.com - Persoalan kemiskinan yang masih terjadi di Kabupaten Cianjur menjadi sorotan dalam sebuah diskusi publik yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, legislatif, organisasi masyarakat, mahasiswa, dan media.
Kegiatan yang digelar di Caffe KM 95 ini menghadirkan narasumber Sekretaris Baperinda Lena, Anggota DPR Hendi, serta Koordinator Aliansi Masyarakat dan Rakyat (AMAR), Adi Otong, Rabu 11 Maret 2026.
Diskusi juga dihadiri oleh perwakilan mahasiswa PMII, Aliansi Masyarakat Sukamaju, yang turut memberikan pandangan terkait kondisi sosial ekonomi masyarakat di Cianjur.
Dalam pemaparannya, Sekretaris Baperinda Cianjur, Lena menjelaskan bahwa persoalan kemiskinan di Kabupaten Cianjur tidak dapat dilihat hanya sebagai persoalan individu, melainkan berkaitan erat dengan berbagai faktor struktural, mulai dari kebijakan pembangunan hingga akses masyarakat terhadap sumber daya ekonomi.
Menurutnya, selama bertahun-tahun Kabupaten Cianjur masih menghadapi persoalan kemiskinan yang belum terselesaikan secara mendasar. Hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan yang terjadi tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya usaha masyarakat, tetapi juga dipengaruhi oleh sistem ekonomi, kebijakan, serta ketimpangan akses terhadap peluang dan layanan dasar.
Sementara itu, Anggota DPRD Cianjur Fraksi PAN, Hendi menyoroti berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat, seperti terbatasnya akses terhadap pekerjaan yang layak, rendahnya upah pekerja sektor informal, serta masih lemahnya perlindungan sosial bagi kelompok rentan.
Ia menyebutkan bahwa di banyak wilayah pedesaan di Cianjur, masyarakat masih menggantungkan hidup pada sektor informal dengan pendapatan yang tidak menentu. Petani kecil, buruh harian, pedagang kecil, hingga pekerja sektor informal lainnya seringkali berada dalam kondisi rentan. Ketika terjadi krisis ekonomi, bencana, atau kenaikan harga kebutuhan pokok, kelompok masyarakat tersebut menjadi pihak yang paling terdampak.
Koordinator AMAR, Adi Otong, dalam kesempatan yang sama menekankan bahwa kemiskinan juga berkaitan erat dengan terbatasnya kesempatan kerja bagi generasi muda. Banyak anak muda di Cianjur yang memiliki tingkat pendidikan terbatas sehingga akhirnya bekerja di sektor informal dengan pendapatan rendah, atau memilih merantau ke kota lain tanpa kepastian kesejahteraan.
Selain itu, ia juga menyoroti bahwa berbagai program bantuan sosial yang selama ini dijalankan seringkali belum mampu menyentuh akar persoalan kemiskinan. Bantuan yang bersifat sementara memang dapat membantu meringankan beban masyarakat, namun tanpa perubahan kebijakan yang lebih mendasar, kemiskinan berpotensi terus berulang dari generasi ke generasi.
Perwakilan mahasiswa PMII dalam forum tersebut menilai bahwa pemerintah perlu membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah. Menurutnya, keterlibatan berbagai elemen masyarakat sangat penting agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan.
Sementara itu, perwakilan Aliansi Masyarakat Sukamaju menyampaikan bahwa masyarakat di tingkat akar rumput masih menghadapi berbagai kesulitan dalam mengakses pekerjaan yang layak, layanan kesehatan, serta pendidikan yang berkualitas. Karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih konkret dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil.
Para narasumber dan peserta diskusi sepakat bahwa penanganan kemiskinan di Cianjur tidak bisa hanya mengandalkan program bantuan jangka pendek. Diperlukan langkah yang lebih komprehensif melalui penciptaan lapangan kerja yang layak, penguatan ekonomi lokal, perlindungan bagi petani dan pekerja kecil, serta peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan yang benar-benar dapat diakses oleh masyarakat miskin.
Diskusi yang juga diliput oleh sejumlah media ini diharapkan dapat mendorong lahirnya kebijakan pembangunan yang lebih berpihak kepada masyarakat kecil. Sebab, kemiskinan bukan sekadar angka statistik, melainkan menggambarkan kehidupan masyarakat yang setiap hari berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Melalui komitmen bersama dari pemerintah, legislatif, masyarakat sipil, mahasiswa, serta media, diharapkan pembangunan di Kabupaten Cianjur dapat lebih fokus pada upaya memutus rantai kemiskinan struktural yang telah berlangsung cukup lama.