Nyukcruk Galur Naskah Kuno Cianjur (1)

Nyukcruk Galur Naskah Kuno Cianjur (1)

Foto : Salah satu naskah kuno menceritakan tentang Cianjur


Mengumpulkan yang Tersisa, Mengingat yang Terlupakan 

                         Oleh Ilham Nurwansah 

Papatet

Pusaka dayeuh Cianjur
Kawitna ti Cibalagung
Cibalagung kantun suwung
Nya ngalih ka Pamoyanan
Pamoyanan kantun ngaran
Nya ngalih katebéh wétan
Cicirénna Badak Putih
Dugi ka ayeuna pisan

Papatet

Pusaka ibukota Cianjur
Bermula dari Cibalagung
Cibalagung tinggallah kosong
Lalu berpindahlah ke Pamoyanan
Pamoyanan tinggallah nama
Lalu berpindahlah ke sebelah timur
Tandanya yaitu (sumur) Badak Putih
Hingga masa sekarang.


Jika kita maknai lebih seksama lirik lagu Papatet dalam tembang Cianjuran di atas, dapat tergambar sebuah ringkasan kilas balik dari berbagai peristiwa sejarah berdirinya Cianjur hingga
masa sekarang.

Sampai saat ini tentu banyak peninggalan para leluhur Cianjur, baik dalam wujud karya seni, tradisi lisan, pembangunan infrasturktur, ekonomi, politik, agama, maupun wujud lainnya.

Di antara berbagai peninggalan leluhur Cianjur yang saat ini masih bisa ditemui yaitu karya￾karya literasi klasik berupa naskah kuno (manuskrip; tulisan tangan). Klasik dapat dimaknai sebagai tua, sederhana, indah, memiliki nilai luhur dan langgeng.

Rentang waktu masa klasik dalam konteks ini yaitu kira-kira tiga abad, mulai dari pertengahan abad ke-17 sampai awal abad ke-20.

Sebagai gambaran tentang pengertian "naskah Cianjur", dapat dipertimbangkan beberapa kriteria, antara lain tempat penulisan di Cianjur atau bisa juga di luar Cianjur, dan/atau ditulis oleh orang Cianjur, dan/atau membahas perihal Cianjur.

Mengenai lokasi wilayah Cianjur tentu harus disesuaikan dengan situasi geopolitik yang berlaku pada masa itu.

Dengan melihat bahwa demikian luasnya rentang waktu tersebut, hingga terbersit dalam
pikiran bahwa naskah-naskah kuno dari Cianjur tentu jumlahnya banyak. Tetapi sampai sekarang belum ada informasi kepastian jumlah naskah Cianjur yang bisa didapatkan.

Sungguh disayangkan pula bahwa penelitian khusus untuk menggarap naskah-naskah kuno Cianjur belum banyak dilakukan. Kalaupun ada, publikasinya sangat terbatas dan tidak cukup mudah untuk diakses oleh masyarakat umum.

Dalam tulisan ini saya berupaya nyukcruk galur (menelusuri jejak) untuk mengumpulkan
beberapa keterangan naskah kuno Cianjur yang tersisa dan dapat saya jangkau melalui studi
pustaka.

Saya juga melakukan kunjungan langsung ke beberapa lembaga penyimpan naskah kuno
untuk memeriksa langsung beberapa naskah sebelum pandemi Covid-19 berlangsung. Semoga
tulisan ini menjadi kesempatan untuk mengingat kembali karya-karya leluhur Cianjur yang
terlupakan.
***
Publikasi pertama yang khusus mengkaji naskah kuno Cianjur yaitu laporan penelitian berjudul Naskah Sunda Lama di Kabupaten Cianjur. Penelitian ini diusahakan oleh Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Jawa Barat atas dukungan dari Departemen
Pendidikan Kebudayaan tahun 1985.

Anggota penelitinya yaitu Yetti Kusmiyati Hadis, Ruswandi
Zarkasih, Nunung Saptiah, dan Dedi Koswara.

Dalam penelitian itu tim berhasil mendapatkan data 33 buah naskah Sunda yang ada di berbagai tempat di kabupaten Cianjur.

Naskah-naskah itu ditulis pada media daun lontar, bilah bambu, daluang, dan kertas.

Bahasa yang digunakannya yaitu Sunda, Jawa, dan Arab. Sedangkan aksara untuk menulisnya yaitu Cacarakan (Jawa), Arab, Pegon (Arab￾Sunda) dan Latin.

Naskah yang berhasil diidentifikasi berasal dari sembilan kecamatan di Kabupaten Cianjur yaitu: Pacét (wawacan Amir Hamzah, Baétal Jemur, Layang Séh, Mangkunagara, Paras Nabi), Cikalongkulon (Angling Darma, Angling Rasa, Karnalalana, Kéan Santang, Nabi Medal, Ogin,
Ranggawulung, Saribanon, Triwangsa), Cianjur Kota (Angling Darma), Cibeber (Babad Cikundul),
Cidaun (Bagénda Ali, Nabi Medal, Suryakanta, Suryaningrat, Umarmaya), Kadupandak
(Danumaya, Jaman Lima, Ki Ganda sareng Ki Sari, Sajarah Luluhur Kadupandak), Karangtengah
(Embah Sodong), Mandé (Piagem Sultan Sepuh Cirebon, Silsilah Prabu Siliwangi), dan Cugenang (Suryaningrat).

Penelitian Yetti Kusmiyati Hadis dkk. menghasilkan gambaran tentang latar belakang dan fungsi naskah kuno di Cianjur.

Pada mulanya Cianjur sebagai pusat pemerintahan tradisional (abad
ke-17). Sejak pemerintahan R.A. Wiratanudatar II menjadi kabupaten yang cukup maju dan terkenal
(di bawah kekuasaan Mataram).

Pada masa itu seni budaya cukup berkembang, terutama tembang
(pupuh) yang diadaptasi dari Mataram.

Selain itu berkembang jenis kesenian beluk, yaitu membaca
dan menembangkan wawacan. Selain karya tulis berjenis puisi, berbagai karya tulis dalam bentuk
prosa juga dihasilkan dan kegiatan penyalinan naskah mulai dilakukan.

Tumbuhnya pesantren di Cianjur mendukung karya-karya tulis bernafas pendidikan, keagamaan dan kebatinan Islam.

Ada pula dokumentasi silsilah keturunan (bupati) yang berfungsi sebagai alat legitimasi. Naskah-naskah itu memiliki beberapa fungsi, antara lain sebagai benda keramat, karya sejarah, bahan bacaan,
bahan upacara, sumber informasi, media pendidikan, media meningkatkan kehidupan beragama,
dan alat legitimasi Perpustakaan Nasional RI di Jakarta juga menyimpan beberapa naskah Cianjur.

Keterangannya terdapat dalam Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 4: Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia (Yayasan Obor Indonesia, 1998) yang disusun oleh Nindya Noegraha
dkk. dan disunting oleh T.E. Behrend.

Enam buah naskah terlacak dalam koleksi Perpustakaan Nasional RI yang berhubungan dengan Cianjur. Seluruhnya berada dalam kelompok naskah berkode SD (Sunda).

Deskripsi yang lebih lengkap koleksi SD di Perpustakaan Nasional RI telah disusun oleh Ruhaliah tahun 2003 dalam laporan berjudul Fisik Naskah Sunda Koleksi Perpustakaan Nasional.

Keenam naskah tersebut yaitu Ini Buku dari Bahasa Melayu dan Bahasa Sunda (SD 2), Carita Perang Cina jeung Puru (SD 108), Bidayah al-Talibin (SD 151), Nabi Paras
(SD 152), Kitab Tarekat (SD 178), dan Beberapa Surat (SD 207).

Naskah-naskah koleksi Perpustakaan Nasional RI semula merupakan koleksi Museum Nasional yang sebagian besar didapatkan dari hasil pengumpulan pada masa Hindia-Belanda oleh lembaga Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) atau "Ikatan Kesenian dan Ilmu Kerajaan di Batavia".

Dalam katalog naskah kuno Koleksi Lima Lembaga yang disusun oleh Edi S. Ekadjati & Undang A. Darsa suntingan Oman Fathurrahman (Yayasan Obor & EFEO, 1999) tercatat sembilan buah naskah yang berasal dari Cianjur. Ketika katalog itu disusun, naskah-naskah Cianjur tersebut disimpan di lembaga EFEO Bandung.

Naskah-naskah yang terdaftar yaitu Sejarah Cikundul, Sahadat Fatimah, Suryaningrat-Ningrum Kusumah, Kumpulan Carita, Ogin Amar Sakti,
Suryaningrat, Paras Nabi, jeung Talaga Manggung.

Namun disayangkan, sejak lembaga EFEO Bandung bubar, keberadaan naskah-naskah koleksinya belum begitu jelas. Dalam katalog itu juga
ditemukan informasi tentang sebuah naskah yang ditulis 1857 oleh Dalem Pancaniti (R.A.A Kusumaningrat) koleksi perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Tahun 2009 Asep Saefullah melakukan penelitian kodikologis naskah-naskah keagmaaan
Cianjur. Hasilnya penelitiannya dipublikasikan dalam Laporan Hasil Penelitian Kodikologi Naskah
Naskah Keagamaan Jawa Barat: Studi Kasus Tradisi Produksi Naskah Keagamaan di Cianjur
(Departemen Agama RI Balitbang dan Diklat Puslitbang Lektur Keagamaan, 2009).

Asep berhasil mendeskripsikan 73 naskah keagamaan dari Cianjur yang dibagi ke dalam tiga kategori yaitu
berdasarkan 1) Bidang kajian, 2) Bahasa & aksara, dan 3) Bahan dan tampilan naskah.

Dari katergori bidang kajian, terdapat naskah-naskah yang berisi kajian Islam umum (seperti kamus, ensiklopedi, dan kumpulan teks khutbah), Al-Quran dan ilmu Al-Quran (tasir & tajwid), akidah dan ilmu kalam (teologi), fikih dan hukum Islam, akhlak dan tasawuf.

tarikh/sejarah/biografi/sirah, doa dan wirid, Islam perkembangan (perkembangan modern dan
Islam), dan bahasa.

Berdasarkan kategori bahasa dan aksara didapatkan informasi bahwa dalam naskah-naskah di Cianjur ditulis dalam bahasa Sunda / aksara Pegon, bahasa Arab / aksara Arab,
bahasa Arab / aksara Arab dan bahasa Sunda / aksara Pegon, bahasa Arab / aksara Arab dan bahasa Indonesia / aksara Pegon. Sedangkan dalam kategori bahan dan tampilan didapatkan informasi
berikut: bahan daluang / manuskrip kuno; kertas bergaris / manuskrip modern; kertas HVS / manuskrip modern; Kertas HVS / Fotokopi; Kertas buram / cetak stensil; Kertas buram / cetak batu (cetak toko).

Aditia Gunawan dan Hazmirullah dalam publikasi terpisah memberikan ulasan terhadap
beberapa naskah penting yang ditulis oleh dua orang Bupati Cianjur di masa lalu.

Aditia Gunawan, filolog ahli di Perpustakaan Nasional RI yang merupakan putra asli daerah Cianjur, membahas secara mendalam naskah-naskah karya R.A.A Kusumahningrat atau Dalem Pancaniti.

Kajiannya dipublikasikan dalam bentuk poster pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara Manassa
(September, 2012) dengan judul Dalem Pancaniti: Penulis dari Pendopo Cianjur.

Tiga buah naskah karya Dalem Pancaniti yang dibahas yaitu Kamus Melayu-Sunda (SD 2 & SD 190 koleksi Perpusnas RI, dan LOr. 2038 [Mal. 171] koleksi UB Leiden, Belanda), Hikayat Bupati Cianjur (104 CKFH 2/5 koleksi Perpusnas RI), dan Hikayat Bupati Sumedang (104 CKFH 1/1 koleksi Perpusnas RI).

Adapun Hazmirullah membahas naskah berupa surat dari R.Prawiradiredja yang ditujukan
kepada Thomas Stamford Raffles di Inggris atas kepulangannya seiring berakhirnya masa jabatan
sebagai Gubernur Jendral di Hindia-Belanda.

Naskah yang ia bahas merupakan bagian dari "bundel" Add MS 45273 (Raffles Papers Vol. III) koleksi British Library, Inggris.

Ulasan lengkap tentang naskah itu terbit dalam Jurnal Manuskrip Nusantara Vol. 11, No. 1 (2020) dengan judul Surat Bupati Cianjur untuk Raffles (1816) : Naskah Melayu Pertama yang Ditulis Menggunakan
Aksara Latin?.


(Surat dari R. Prawiradiredja untuk Raffles koleksi British Library)

Di Cianjur sendiri, informasi keberadaan naskah berisi sempalan sejarah dalam naskah Wawacan Jampang Manggung giat dikabarkan oleh Luki Muharram dalam beberapa laporan di media massa danseminar.

Naskah tersebut dimiliki oleh Ustadz Jalaludin di salah satu pesantren yang berlokasi di kaki Gunung Manggel.

Berdasarkan ulasan Luki dalam laporannya, Teks Wawacan Jampang Manggung mengisahkan sebuah kerejaan kecil yang berada di sekitar Gunung Mananggel sebelum masa berdirinya Cianjur.

Identifikasi dan pembahasan naskah-naskah Cianjur dalam penelitian maupun ulasan yang  telah dilakukan tersebut merupakan serpihan-serpihan yang penting untuk dikumpulkan, ditafsirkan, dan dimaknai sebagai sebuah warisan intelektual para leluhur Cianjur.

Karya-karya adiluhung yang masih tersisa itu sangat perlu untuk diselamatkan, baik fisiknya, maupun kandungan isinya agar memberikan gambaran yang lebih jelas tentang seluk-beluk masa lalu masyarakat Cianjur.

Dengan demikian, masyarakat Cianjur saat ini bisa menjadikannya sebagai rujukan dan perbandingan dalam menentukan perilakunya sekarang dan masa yang akan datang. 









Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Bijaksana dan bertanggung jawablah dalam berkomentar, karena sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE