Dampak Abu Vulkanik, Petani Cianjur Dihimbau Segera Lakukan Mitigasi

Foto : Ilustrasi (net)
CIANJUR. Maharnews.com - Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur mengimbau seluruh petani dan kelompok tani untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah mitigasi cepat. Abu vulkanik berdampak negatif terhadap tanaman padi dan sayuran.
Plt. Kepala DTPHP, Wahyu Ginanjar menerangkan berdasarkan pemantauan lapangan dan rilis citra satelit BMKG, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tanggal 6 September 2026 mengenai Pemantauan Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau melalui Citra Satelit RGB Himawari-9 yang mendeteksi sebaran abu vulkanik klaster rendah bergerak melintasi wilayah Jawa Barat Barat-Selatan termasuk Kabupaten Cianjur.
"Paparan abu vulkanik terpantau menyelimuti areal persawahan dan sentra hortikultura, terutama di wilayah Cianjur Utara (Cipanas, Pacet, Cugenang, Sukaresmi), wilayah perkotaan, hingga Cianjur Timur (Ciranjang dan sekitarnya)," terangnya dalam siaran pers, Senin, 7 September 2026.
Wahyu mengatakan bahwa abu vulkanik mengandung senyawa asam (sulfur) tingkat tinggi dan partikel silika tajam (abrasif). Musim kemarau memperparah kondisi, sehingga berpotensi merusak tanaman padi dan sayuran.
"Pada komoditas tanaman padi sawah, dapat menimbulkan resiko dehidrasi daun, penutupan stomata secara permanen jika terpapar embun/air minim, penurunan pH air sawah menjadi asam, dan potensi bulir hampa pada padi fase generatif," ucapnya.
"Sedangkan pada komoditas sayuran (hortikultura) bisa berpotensi pembusukan dan robeknya jaringan daun luar, kegagalan penyerbukan/kerontokan bunga, serta penurunan kualitas fisik buah (bopeng)," tambahnya.
Wahyu menginstruksikan jajaran UPTD Pertanian Kecamatan untuk segera melakukan empat langkah darurat. Pertama, penyebarluasan Informasi Kedaruratan.
"Menggerakkan seluruh PPL untuk mensosialisasikan Panduan Mitigasi Fisik kepada Petani, Poktan/Gapoktan dan P3A Mitra Cai, di wilayah kerja masing-masing (Instruksi gerakan bilas/semprot daun dengan air bersih, pengurasan air sawah asam, dan larangan penggunaan pupuk Nitrogen/Urea instan pasca-hujan abu)," tuturnya.
Kedua, lanjut Wahyu adalah optimalisasi Sarana Irigasi Gerakan Massal. Menginventarisasi dan memobilisasi bantuan pinjaman pompa air operasional, di tingkat UPJA, Poktan/Gapoktan guna membantu kelompok tani yang kesulitan akses air bersih untuk pembilasan lahan kritis.
"Ketiga, pendataan dan Pemetaan (By Name By Address). Melakukan verifikasi dan validasi luasan lahan yang terdampak, tingkat kerusakan (ringan, sedang, berat, puso), umur tanaman, serta status kepesertaan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) menggunakan format lampiran yang disediakan," katanya.
Wahyu menyebut kesehatan petani juga menjadi perhatian utama. Alat pengamanan diri wajib digunakan saat melakukan mitigasi.
"Mengimbau secara tegas kepada seluruh petani binaan untuk wajib menggunakan masker dan kacamata pelindung selama melakukan aktivitas pemulihan di lahan luar ruangan," tegasnya.
Untuk pelaporan, Wahyu menjelaskan perkembangan situasi lahan terdampak di tingkat kecamatan wajib dikirimkan secara tertulis kepada Bidang Tanaman Pangan, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Cianjur untuk dilakukan rekapitulasi tingkat kabupaten. (wan)
- UHC Pupus, Susilwati : Gali Sumber Baru Kekayaan Cianjur Harus Menjadi Obat Rakyat
- Komisi IV DPRD Cianjur Perkuat Pengawasan MBG: 7 Dapur Belum Halal Teridentifikasi
- Titik Terang Disepakati: Mata Warga Terpaku pada Batas Waktu 2x24 Jam Pencabutan SE UHC
- Tuntutan Tanpa Kompromi: Cabut SE UHC, Selamatkan 815 Ribu Nyawa Warga Cianjur
- Komisi III DPRD Cianjur Terus Mendesak: Dana Rp25 Juta per RT Sepenuhnya Dikelola Desa dan Masyarakat
- Isfhan Taufik Munggaran: Reses di Tanah Naringgul, Menabur Nilai Luhur P5HAM di Cianjur Selatan
- Penghentian Jaminan Kesehatan: Dosa Besar dan Kebohongan Terstruktur Bupati Cianjur













