Dibentuk di Bukit Lawang: Catatan Pengabdian di Tepi Leuser

Maharnews.com- Bukit Lawang, salah satu daerah di Sumatera Utara yang namanya pasti sudah sering kalian dengar, iya kan? Untuk bisa sampai ke sini, kamu harus menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam dari Kota Medan.
Perjalanan itu melewati hamparan perkebunan sawit, jalan kecil yang padat oleh mobil-mobil besar pengangkut sawit, serta sepeda motor yang oleh warga setempat disebut dengan “kereta”. Kalau aku bertanya kepada kalian, apa yang kalian tahu tentang Bukit Lawang, apa jawaban kalian? Pusat konservasi orangutan? Gunung Leuser? Tempat wisata? Semua benar. Tapi Bukit Lawang bukan hanya itu.
Kehidupan di sini lebih dari sekadar destinasi wisata. Tidak seramai kota-kota besar, tapi juga tidak sesepi pedesaan yang benar-benar tak tersentuh modernitas. Alfamart dan Indomaret masih bisa ditemui. Selain itu, jangan kaget kalau kalian sering melihat bule berlalu-lalang membawa motor gigi merek Supra X di sepanjang jalan.
Bukit Lawang telah lama menjadi salah satu destinasi pilihan wisatawan mancanegara ketika berkunjung ke Sumatera Utara, dengan daya tarik seperti jelajah hutan untuk bertemu satwa yang dilindungi, atau sekadar menikmati kekayaan alamnya. Lantas, untuk apa aku berada di sini? Jalan-jalan? Melihat orangutan? Bukan.
Menjadi volunteer di salah satu NGO yang berfokus pada pendidikan, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat adalah alasan utama mengapa aku memutuskan untuk menghabiskan penghujung tahun 2025 di sini.

Bukit Lawang Trust, sebuah organisasi yang mungkin baru pertama kali kamu dengar, tapi memiliki peran besar di balik dinamika kehidupan masyarakat Bukit Lawang. Bukit Lawang Trust bukan sekadar ruang kelas kecil dengan papan tulis dan suara anak-anak yang belajar setiap pagi.
Ia merupakan ruang gerak dan ruang bernapas bagi masyarakat sekitar. Tragedi banjir bandang yang melanda Bukit Lawang pada tahun 2003 menjadi latar belakang berdirinya yayasan ini. Upaya membantu masyarakat pulih dari trauma, membangun kembali kehidupan, serta memperbaiki kualitas hidup menjadi awal mula mengapa NGO ini dibentuk — dengan tujuan jangka panjang untuk menjaga keseimbangan antara manusia, pendidikan, dan lingkungan.

Aku menjadi bagian dari Bukit Lawang Trust sebagai volunteer dari 10 Oktober hingga 6 Desember 2025. Selama hampir dua bulan, aku terlibat langsung dalam berbagai program pendidikan dan merasakan bagaimana pengabdian dijalankan secara nyata di tingkat komunitas. Salah satu program yang aku jalani adalah TK Support 1 on 1, pendampingan bagi anak-anak taman kanak-kanak yang membutuhkan perhatian khusus dalam proses belajar.
Anak-anak yang agak terlambat menangkap materi di kelas, atau membutuhkan perlakuan yang lebih personal. Di sini, aku belajar bahwa setiap anak memiliki ritmenya sendiri. Tugasku bukan mempercepat mereka, melainkan menemani proses mereka dengan sabar.
Selain itu, aku juga terlibat dalam program Youth Rangers, kelas konservasi untuk anak-anak usia 5–11 tahun yang dilaksanakan di daerah bernama Porli. Untuk sampai ke sana, kami harus menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari Bukit Lawang Trust, melewati jalan yang cukup terjal—terutama jika menggunakan motor matic—serta hamparan kebun sawit yang luas. Perjalanan ke Porli selalu melelahkan.
Namun setiap kali aku baru turun dari motor, semua lelah itu langsung terbayar. Anak-anak menyambutku dengan teriakan nyaring, “Miss Lalaaaa!” Teriakan itu selalu berhasil mengembalikan semangatku. Aku menikmati pengabdianku di sini. Seberat apa pun hari yang dijalani, semangat anak-anak untuk belajar selalu terasa menular.
Selain program pengabdian, menjadi volunteer di Bukit Lawang Trust juga memberiku kesempatan mengikuti jungle trekking di Taman Nasional Gunung Leuser, sebuah pengalaman yang menjadi salah satu momen paling berkesan selama berada di Bukit Lawang.
Sebagai volunteer baru, aku bersama empat temanku—dua dari Indonesia dan dua dari Amerika—mengikuti jungle trek yang difasilitasi oleh Sumatera Orangutan Explore (SOE).
Pagi itu, kami berkumpul di SOE sekitar pukul sembilan. Sebelum perjalanan dimulai, kami sarapan bersama di sana. Aku memilih banana pancake, sederhana tapi cukup mengenyangkan untuk perjalanan panjang yang menanti. Bahkan sebelum masuk hutan, kami sudah diberi souvenir kecil: sabun batang homemade, gantungan kunci orangutan, dan tas batik—detail kecil yang terasa hangat.
Sekitar pukul sepuluh pagi, perjalanan dimulai. Dari SOE, kami berjalan menuju kawasan Bukit Lawang dan menyeberangi jembatan besi yang membentang di atas Sungai Bohorok.

Setelah itu, suasana langsung berubah. Vegetasi semakin rapat, udara semakin lembap, dan jalur mulai menanjak. Beberapa anak tangga dari tanah dan bambu harus kami naiki. Karena sedang musim hujan, jalurnya licin, dan pacet menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan. Kami didampingi oleh dua guide dari SOE yang tidak hanya berpengalaman, tapi juga seru, membuat perjalanan terasa lebih ringan.
Sekitar satu jam berjalan, kami akhirnya bertemu orangutan pertama kami. Tubuhnya besar, bergelantungan di atas pohon. Kami semua terdiam. Bagiku, ini adalah pertama kalinya melihat orangutan langsung di habitat aslinya. Bukan di balik pagar, bukan di layar, tapi di rumahnya sendiri.
Perjalanan berlanjut semakin dalam ke hutan. Pohon-pohon besar berdiri kokoh, akarnya menjalar ke segala arah, seperti penjaga setia kawasan ini. Sekitar dua setengah jam berjalan, kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan makan buah-buahan.

Buah-buah itu disajikan di atas hamparan daun pisang, dihiasi bunga kamboja putih dan kuning. Segar, menenangkan, dan menghapus penat.
Disela istirahat, kami dihampiri seekor monyet abu-abu dengan jambul khas. Kami menjulukinya Thomas. Ia seolah tahu kamera sedang diarahkan kepadanya—berpose dengan santai, menambah tawa di tengah lelah. Perjalanan dilanjutkan kembali. Medan semakin menantang. Udara lembap, panas mulai terasa, dan jalur tanah semakin licin.
Kami harus menjaga keseimbangan di setiap langkah. Tak lama kemudian, kami kembali bertemu orangutan—kali ini satu keluarga: induk, pejantan, dan anaknya. Mereka saling bergelantungan di pepohonan tinggi. Pemandangan itu terasa hangat dan mengesankan, membuat kami kembali terdiam dalam kekaguman.
Saat waktu makan siang tiba, kami berhenti lagi. Di tengah hutan, kami disuguhi nasi goreng kecap dan ayam crispy yang disajikan di pincuk daun pisang. Porsinya besar, mengenyangkan.

Saat kami makan, pepohonan di atas tiba-tiba ramai. Seekor gibon bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain, mengikuti pergerakan kami, seolah tertarik dengan aroma makanan.
Setelah sekitar empat hingga lima jam berjalan, jalur mulai menurun. Kali ini, kami menyusuri sungai. Airnya tidak tinggi, tapi cukup membuat kaki basah. Di sepanjang sisi sungai, berdiri pondok-pondok kayu dan bambu yang menjadi area bermalam para wisatawan.
Menjelang magrib, kami tiba di area perkemahan kami—sebuah pondok kecil dengan lima tempat tidur single lengkap dengan kelambu, bantal, dan selimut. Malam di hutan benar-benar gelap.

Tidak ada listrik, hanya cahaya lilin. Makan malam disajikan dengan sangat melimpah: ayam kecap, perkedel jagung, orek tempe, semur telur, opor ayam, kerupuk, teh hangat, dan kopi hitam. Kami makan bersama para guide, bercengkrama, bermain kartu, tertawa, lalu tertidur lelap setelah hari yang panjang.
Paginya, kami sarapan sandwich lima lapis—katanya untuk tabungan energi. Perjalanan pulang kami ambil jalur yang lebih datar, menyusuri sungai. Setelah itu, petualangan ditutup dengan tubing. Mengapung di atas ban besar, kami diombang-ambing arus sungai. Dua puluh menit terasa singkat. Kami kembali ke Bukit Lawang basah kuyup, tapi hati penuh kegembiraan.
Pengalaman berharga lainnya selama menjadi volunteer adalah mengikuti workshop, yang juga difasilitasi oleh Bukit Lawang Trust. Workshop ini khusus untuk volunteer, dengan pilihan beragam. Hari itu, kami berempat memilih mengikuti workshop ecoprint dan pembuatan sabun.
Kami dijemput oleh Kak Sarah, sosok yang hangat, ramah, dan membuat suasana langsung terasa nyaman. Lokasi workshop berada di tengah sawah, sebuah rumah kayu panggung yang sederhana namun estetik. Di belakang rumah, terdapat kebun bunga yang tumbuh bebas. Untuk sesi ecoprint, kami diajak memetik sendiri bunga dan daun yang akan digunakan—mulai dari bunga kosmos hingga daun jati.
Kak Sarah menjelaskan bahwa setiap daun dan bunga memiliki karakter warna yang berbeda, dan hasilnya tidak akan pernah benar-benar sama di setiap kain. Kami belajar merendam kain, menyiapkan bahan, lalu menyusun bunga dan daun di atas kain sesuai selera. Setelah itu, kain dipress dan dikukus.
Sambil menunggu proses ecoprint, kami beralih ke pembuatan sabun. Dari melelehkan bahan baku, memilih aroma, warna alami, hingga menentukan cetakan—semuanya kami lakukan sendiri. Tidak ada aturan baku. Setiap orang bebas mengekspresikan diri. Hasil sabun dan kain ecoprint kami pun berbeda-beda, mencerminkan kepribadian masing-masing. Kata Kak Sarah hari itu,
“Di sini semua boleh jadi diri sendiri. Tidak ada benar atau salah.”

Dari jam sembilan pagi hingga sekitar jam dua siang, kami larut dalam proses. Tangan kotor, lelah, tapi hati penuh. Melihat hasil kerja kami sendiri memberikan kepuasan yang sederhana namun mendalam.
Pada akhirnya, datang ke Sumatera Utara dan memilih menjadi bagian dari volunteer di Bukit Lawang Trust adalah keputusan yang sangat tepat. Aku mendapatkan pengalaman berharga, bertemu orang-orang yang keren dan tulus, yang mengubah cara pandangku melihat dunia — khususnya tentang pendidikan dan lingkungan. Cara pandangku menjadi lebih tajam, lebih kritis, dan lebih dalam.
Di tempat ini, aku merasa dibentuk. Bukan hanya secara fisik oleh perjalanan panjang dan medan yang menantang, tetapi juga secara mental. Bukit Lawang Trust menjadi ruang tumbuh, ruang belajar, dan ruang refleksi. Tempat aku pulang dengan versi diri yang lebih sadar, lebih peka, dan—aku harap—lebih baik dari sebelumnya.
Catatan : Kaka Kahla
- Pastikan Bantuan Tepat Sasaran, Rumah KPM di Pasang Labelisasi
- Tingkatkan Pengelolaan Keuangan dan Aset Desa, BKAD Gelar Rapat Koordinasi
- Surat Cinta untuk Ibu Siti, Dari Gunung yang Terancam Mengetuk Nurani di Senayan
- Cahaya Ibrahim Diusung Jadi Pucuk Pimpinan di Muscab ke VII HIPMI Cianjur
- Jovan Tinjau Tiga Titik Proyek Peningkatan Produktivitas Pertanian di Cianjur
- Kenaikan Tarif Air PDAM Tirta Mukti Cianjur Digoyang LEPAM, Ini Tuntutannya!!
- Kembangkan Kampung KB di Seluruh Desa, Tekad DPPKBP3A Turunkan Stunting














