Tak Teduh Lagi Seperti Dulu, Pendopo Cianjur Bakal "Hot Jeletot"

Tak Teduh Lagi Seperti Dulu, Pendopo Cianjur Bakal "Hot Jeletot"

Foto : Pohon Kakija di jalan Otto Iskandardinata II kini tak tampak lagi, suasana panas terik matahari menjadi pemandangan baru, Selasa (24/9/2019).



CIANJUR. Maharnews.com - Panasnya suhu politik di Kabupaten Cianjur seakan mempengaruhi suhu lingkungan sekitarnya. Pasalnya, puluhan pohon yang juga berumur puluhan tahun turut ditebang karena adanya pembangunan di tengah Kota Tatar Santri.

Pantauan lapangan maharnews, puluhan pohon kanan kiri jalan (Kakija) sudah ditebang di jalan Aria Cikondang dan Otto Iskandardinata II. Alhasil, suasana teduh saat terik matahari bersinar semakin menghilang. Pohon besar berdaun rindang sebagai penahan panas sudah tak terlihat, berganti dengan aktivitas proyek.

Bergeser ke jalan Siliwangi, tepat di depan Pendopo, pohon besar yang berfungsi sebagai payung peneduh juga mulai ditebang. Suasana panas bakal menghinggapi kawasan pendopo Cianjur. Suasana teduh berganti berganti dengan panasnya terik matahari.

Seorang petugas yang memotong pohon kakija di sepanjang jalan Pendopo Cianjur mengatakan seluruh pohon di sepanjang jalur tersebut akan ditebang. Pemotongan dilakukan secara bertahap.

"Bakal ditebang semuanya, mau dibangun pak," ucapnya, Senin (23/9/3/2019) malam.

Terpisah, Pentolan aktivis Cianjur, Hendra Malik mempertanyakan seberapa penting dan urgensinya penebangan itu dilakukan.

"Apa yang menjadi dasar dan alasan, adakah klasifikasinya ? Pohon mana yg harus ditebang dan pohon mana yang harus dipertahankan?," ungkapnya, Selasa (24/9/2019).

Malik juga mempertanyakan sistem peremajaan pohon kakija yang akan dilakukan sebagai ganti pohon yang ditebang. Jangan sampai penggantinya menjadi dilema dan kontroversi bagi masyarakat, seperti yang sudah-sudah.

"Cukuplah suasana politik yang memanas, alam kita jangan didesain memanas juga," tegasnya.

Malik mengingatkan belumkah cukup Tuhan memberikan peringatan kepada kita semua, dengan kemarau panjang, dengan suhu yang semakin panas, dengan kebakaran-kebakaran hutan.

"Jangan buat Cianjur jadi kota gersang dan panas karena darurat pohon rindang apalagi sampai darurat oksigen. Di Cianjur cukup gehu (tahu, bahasa Sunda) saja yang menyandang gelar hot jeletot," pungkasnya. (wan)



Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Semua Komentar

Komentar