Itda Bakal Periksa Dugaan Markup Harga Ambulance Desa Mekarsari

Itda Bakal Periksa Dugaan Markup Harga Ambulance Desa Mekarsari

Foto : Tampak depan kondisi kantor Desa Mekarsari, Kecamatan Cianjur, Kamis (13/2/2020).



CIANJUR. Maharnews.com - Desa Mekarsari, Kecamatan Cianjur menjadi satu dari tiga desa yang diperiksa oleh Inspektorat Daerah (Itda) Kabupaten Cianjur. Adanya aduan masyarakat terkait potensi kerugian negara menjadi salah satu dasarnya.

Sekretaris Itda, Asep Suhara membenarkan jika Desa Mekarsari, Kecamatan Cianjur sedang diperiksa. Memang yang dilaporkan terkait pembelian ambulance desa.

"Dugaan masyarakat berasal dari nama kegiatan pemberdayaan tetapi di dalamnya ada pembelian ambulance. Ini yang menjadi kecurigaan masyarakat," ungkapnya saat ditemui di kantornya, Kamis (13/2/2020).

Suhara memastikan hal tersebut diperkenankan selama tercantum di dalam APBDes. Begitupula sebaliknya jika tak diuraikan di dalam APBDes maka akan menjadi temuan.

"Setelah diperiksa di APBDes, uraian pembelian ambulance tercantum di dalamnya, sehingga diperbolehkan. Hasil pengecekan, barangnya (ambulance, red) ada, tidak fiktif," tuturnya.

Suhara memastikan pemeriksaan tak akan berhenti disana. Saat ini, Itda mencoba menggali adanya potensi kerugian negara dari harga pembelian ambulance tersebut.

"Tetap akan diperiksa terkait adanya dugaan mark up atau kewajaran harga pembelian ambulance. Nantinya akan dibandingkan harga itu dengan desa tetangga, atau desa lainnya dengan merk yang sama," terangnya.

Sementara, Camat Cianjur, Tomtom Dani Gardiat mengetahui bahwa desa Mekarsari sedang diperiksa Itda. Alhasil, semua berkas terkait LPJ Desa Mekarsari dibawa sebagai bahan pemeriksaan.

"Belum bisa memberikan penjelasan secara rinci untuk saat ini, karena memang masih diperiksa Itda," katanya.

Terpisah, Sekretaris Desa Mekarsari, Kecamatam Cianjur, Tuti Mutiara dan Kasi Pelayanan, Sirod tidak berada di kantornya karena sedang menghadap Camat Cianjur. Namun, Kasie Kesra Desa Mekarsari, Firman Amirudin bersedia memberikan penjelasan.

Firman membenarkan bahwa Dana Desa tahap III yang cair dipertengahan Desember 2019, digunakan hingga Rp. 252 juta untuk kegiatan penyuluhan. Namun didalamnya terdapat belanja modal, yaitu pembelian ambulance desa dengan harga sekitar Rp. 248 juta, sisanya untuk penyuluhan.

"Tidak bisa langsung dibelikan ambulance, harus dimasukkan dalam kegiatan. Dibuat kegiatan namanya penyuluhan masyarakat mengenai peduli, cepat dan tanggap penanganan pasien," ucapnya.

Firman mengaku sebelum pembuatan APBDes itu sudah melakukan koordinasi dengan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (BPMD) Kabupaten Cianjur dan diarahkan seperti penjelasannya.

Namun saat ditanya terkait ada tidaknya sosialisasi kepada masyarakat terkait pembelian ambulance dalam kegiatan penyuluhan, Firman mengakui tidak berjalan maksimal. Karena hal itu akhirnya masyarakat menduga desa telah melakukan korupsi.

"Sudah disosialisasikan, tetapi hanya kepada 30 kader posyandu desa. Memang harapannya para kader dapat membantu mensosialisasikannya, ternyata tidak maksimal hasilnya," bebernya. (wan)




Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Bijaksana dan bertanggung jawablah dalam berkomentar, karena sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE