Dua Pohon Besar Tumbang, Pendopo Cianjur Diamuk Alam
Hadi Buana: Tangkal saur sepuh kapungkur simbol kakawasaan

Dua Pohon Besar Tumbang, Pendopo Cianjur Diamuk Alam

Foto : Seorang ASN mencoba mengambil barangnya yang berada dalam mobil yang tertimpa pohon roboh, Kamis (17/10/2019)



CIANJUR. Maharnews.com - Hujan lebat disertai angin kencang guyur Pendopo Kabupaten Cianjur, Kamis (17/10/2019). Alhasil, dua pohon raksasa yang berumur ratusan tahun tumbang menimpa satu mobil dan bangunan kantor sekda. Beberapa percaya bahwa kejadian itu merupakan pertanda yang tidak tersirat.

Pantauan lapangan, puluhan Aparatur Sipil Negara (ASN), pihak kepolisian dan beberapa aparat militer mencoba membersihkan pepohonan tumbang tersebut. Dua jenis pohon raksasa yang tumbang yakni pohon Jengjen dan Cemara. Sedangkan mobil Fortuner dengan plat D 1656 RF diketahui merupakan milik seorang pegawai sekretariat daerah. Beruntung dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa.

Seorang ASN yang enggan namanya disebut mengungkapkan bahwa kejadian alam yang biasa menimpa pendopo, umumnya memiliki makna tersembunyi. Ia pun berharap peristiwa tersebut tidak bermakna negatif.

"Semoga bukan sesuatu makna terkait pemeritahan Cianjur," ungkapnya sembari melihat proses pembersihan pohon raksasa yang roboh.

Ditanya terkait kejadian serupa yang pernah terjadi di Terminal Rawabango dimana hujan deras dan angin kencang juga menumbangkan pepohonan yang disusul kejadian Operasi Tangkap Tangan (OTT) Bupati Cianjur non aktif Irvan Rivano Muchtar (IRM), Ia tak berani berkomentar. Meskipun begitu ia memastikan ulang bahwa kejadian di Cianjur selalu memiliki pertanda tersembunyi.

"Kejadian di Pendopo selalu memiliki kila-kila (Bahasa Sunda, pertanda, red)," pungkasnya berlalu pergi.

Terpisah, bakal calon Bupati (Bacalbup) yang berencana menggunakan jalur independen, Hadi Buana mengucapkan doa semoga tidak ada korban jiwa. Menurutnya kejadian itu merupakan pengingat dari yang Maha Kuasa bahwa perilaku manusia tidak selaras dan harmoni dengan alam.

"Di balik musibah tersimpan rahasia dan hikmah," ucapnya.

Hadi membeberkan bahwa pohon kata orang tua dulu merupakan simbol kekuasaan, orang tua dulu suka menyimbolkan raja dengan pohon beringin atau pohon yang tidak berbuah supaya bisa mengeluarkan oksigen lebih banyak. Itu mungkin menyimbolkan kekuasaan harus bisa menopang kehidupan hajat hidup orang banyak serta menjaga alam dengan seimbang.

"Kalau sekarang pohon di pendopo roboh diterpa oleh angin diiringi hujan apa tafsir dan tandanya, Hanya Alloh yang Maha Tahu, rakyat gimana kerasanya dari Kekuasaan yang sekarang, dan ini merupakan reaksi pengembalian dari alam," bebernya.

Oleh sebab itu, Hadi menghimbau semua harus bertafakur pada ibadah baik habluminalloh (hubungan dengan Allah), habluminanas (hubungan dengan manusia) dan habluminal alam (hubungan dengan alam).

"Biar perilaku manusia bisa selaras dan harmoni dengan alam. Menghadap ke Tuhan dengan syukur," himbaunya. (wan)



Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Semua Komentar

Komentar