Berpotensi Pengaruhi Citra Aparat dan Legislatif, Statement Ketua Komisi C DPRD Dinilai Offside

Berpotensi Pengaruhi Citra Aparat dan Legislatif, Statement Ketua Komisi C DPRD Dinilai Offside

Foto : Lokasi longsor di area galian tambang golongan C (Galian Pasir) Gunung Bubut Blok Desa Cikahuripan Kecamatan Gekbrong Kab. Cianjur, Kamis (22/4/2021)



CIANJUR. Maharnews.com - Kasus meninggalnya empat orang penambang galian C di Kecamatan Gekbrong masih diproses Polres Cianjur. Namun terkait hal tersebut, Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Cianjur mengeluarkan statemen janggal.

Alhasil, pernyataan tersebut menuai kritikan pedas dari aktivis lingkungan Cianjur, Ujang Ruslandi. Ia menilai ucapan Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Cianjur, Asni Aprianti telah melangkahi kewenangan kepolisian alias offside.

"Kasus ini masih dalam proses penyelidikan polres Cianjur dan belum ada kesimpulan," cetusnya, Sabtu (1/5/2021).

Lanjut Ruslandi, sebagai Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Cianjur (Asni Aprianti) seharusnya jangan mengeluarkan ucapan di media (maharnews, red) yang seakan-akan menyimpulkan hasil penyelidikan polres Cianjur. Ia menyarankan lebih baik menunggu hasil resmi dari kepolisian sebelum mengeluarkan statemen.

"Ditakutkan hal tersebut dapat mempengaruhi citra Polres Cianjur dan anggota DPRD itu sendiri di mata masyarakat, belum lagi jika opini negatif terbentuk dari ucapan itu akhirnya rugi sendiri," tegasnya.

Ruslandi menegaskan bahwa perkataan atau statemen wakil rakyat bisa dikatakan sebagai perpanjangan lidah masyarakat. Sehingga informasi yang disampaikannya akan memiliki pengaruh yang luar biasa.

"Biarkan kepolisian dan pihak terkait (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cianjur) menyelidiki penyebab dan menunggu hasil resminya," pungkasnya.

Baca juga: Legislator Partai NasDem Angkat Bicara Soal Tewasnya 4 Pekerja Tambang di Gekbrong

Diberitakan sebelumnya, Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Cianjur, Asni Aprianti mengatakan bahwa pihak perusahaan (PT. Dutaprima Ekasarana) sudah semaksimal mungkin mematuhi aturan yang memang dianjurkan.

Pun dari segi penataan, pihak perusahaan telah mengikuti prosedur yang dilaksanakan dalam pertambangan.

"Untuk kedepannya, setiap perusahaan tambang di lokasi harus lebih berhati-hati dan memperhatikan kejadian atau hal yang memang bisa berdampak atau memicu terjadinya longsor kembali," pungkasnya  saat dikonfirmasi melalui layanan Whatsapp,  Senin (26/4/2021).

Baca juga: Polres Cianjur Lidik Peristiwa Tewasnya 4 Pekerja Tambang di Gekbrong

Padahal tiga hari setelahnya, Kapolres Cianjur, AKBP Moch Rifai mengatakan jajaran Satreskrim hingga kini terus melakukan penyelidikan atas peristiwa yang telah menewaskan 4 pekerja tambang tersebut.

"Tidak berhenti sebatas kecalakaan kerja. Tetap kita melakukan penyelidikan kasus tersebut," ujar Kapolres saat ditemui seusai mengikuti rapat gugus tugas reforma agraria di Pendopo Pancaniti, Kamis (29/4/2021).

Dalam penyelidikan peristiwa tersebut kata Kapolres, pihaknya akan bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Cianjur.

"Kita akan bekerjasama dengan DLH Cianjur, melihat bagaimana proses penambangan di lokasi tersebut, apakah sesuai prosedur atau tidak. Intinya pemeriksaan tetap dilakukan oleh satreskrim pun dengan penyelidikannya,"terangnya.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur menginformasikan telah terjadi longsor di area galian tambang golongan C (Galian Pasir) Gunung Bubut Blok Desa Cikahuripan Kecamatan Gekbrong Kab. Cianjur, Kamis (22/4/2021) pukul 00.30 dini hari.

Longsor di areal galian pasir yang dikelola PT Dutaprima Ekasarana tersebut mengakibatkan 8 orang pekerja tertimbun. 4 orang meninggal dunia sementara 4 lainnya mengalami luka. (wan)




Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Bijaksana dan bertanggung jawablah dalam berkomentar, karena sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE