Sejarah Baru, KPK Duduk di Kursi Saksi PN Cianjur

Sejarah Baru, KPK Duduk di Kursi Saksi PN Cianjur

Foto : Amir Arif (memegang microphone) memberikan keterangan saksi di PN Cianjur, Rabu (28/8/2019).



CIANJUR. Maharnews.com - Sejarah baru terukir di Cianjur saat Perwakilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) duduk di kursi saksi Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Cianjur, Rabu (28/8/2019). Bukan membahas korupsi, tetapi menjadi saksi dalam kasus penipuan dan pemerasan yang menimpa orang nomor satu di Cianjur, Herman Suherman.

Kehadiran perwakilan tim KPK itu dibenarkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Selamet Santoso. Ia menerangkan sengaja menghadirkan KPK sebagai saksi dalam kasus tersebut.

"Untuk menceritakan kronologis penangkapan Mustadjab Latip, yang diduga sebagai KPK gadungan. Karena pada penangkapan ditemukan beberapa kartu identitas seperti kartu pers Bhineka, kartu konsultan mabes Polri dan kartu identitas lain," terangnya.

Informasi yang dihimpun maharnews, dua orang perwakilan KPK hadir dalam sidang itu, tetapi hanya seorang yang duduk di kursi saksi PN dan memberikan keterangan. Alhasil, kuasa hukum empat terdakwa yang berjumlah 9 orang mencecarnya dengan pertanyaan.

Fakta persidangan, perwakilan KPK yang diketahui bernama Amir Arif menegaskan bahwa dirinya termasuk dalam tim KPK yang membawa Mustadjab Latip ke Polres Cianjur. Dalam kesaksiaannya ia yang mengaku bertugas sebagai penyelidik KPK mendapatkan surat perintah bertanggal 20 Desember 2018 untuk penyelidikan satu pria dan dua wanita yang berfoto bersama Wakil Bupati kala itu, Herman Suherman setelah kejadian OTT Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar (IRM).

Amir saat ditanya seorang kuasa hukum terdakwa juga sempat mengubah satu kata dalam Berita Acara Penyidikan (BAP) dirinya yang mana kata mengamankan ML diganti menjadi dibawa.

"Yang benar keterangan saya disini, bukan mengamankan tetapi dibawa," ucap Amir menjawab pertanyaan.

ML menjadi target KPK karena diduga melakukan pemerasan kepada pejabat di Cianjur dengan mengatasnamakan KPK. Amir juga memastikan ML bukan anggota KPK atau orang yang dapat menggerakkan KPK serta bukan orang yang berjasa dalam OTT KPK Bupati nonaktif, IRM.

Tak sampai disitu, kuasa hukum terdakwa terus mencecar pertanyaan ke saksi KPK, namun tiba-tiba Hakim ketua, Lusiana Amping menskor sidang tanpa alasan.

"Sidang diskor lima menit," ucapnya sambil mengetok palu dan berlalu pergi meninggalkan persidangan sembari berjalan menuju ruangan Ketua PN Cianjur, hingga lima menit berlalu Hakim ketua pun kembali ke kursinya.

Jalannya sidang berjalan alot, bahkan kuasa hukum berkali-kali dipotong oleh Hakim Ketua atau JPU karena pertanyaannya dinilai tak berhubungan dengan kasus yang disidangkan. Bahkan Hakim Ketua, Lusiana Amping sempat menegaskan bahwa saksi KPK berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tidak bisa mengungkapkan hal yang memang harus dirahasiakan.

"Saksi ini ASN, dia (Umar Arif, red) punya kewajiban merahasiakan hal yang memang harus dirahasiakan," tegas hakim ketua memotong pertanyaan kuasa hukum.

Dalam penegasan itu, Lusiana juga sempat menjelaskan bahwa posisi saksi KPK seperti dirinya yang hanya mengikuti perintah pimpinan.  Ia mencontohkan terpaksa menskor sidang selama lima menit karena diperintah menghadap ke pimpinan.

"Sama seperti saya karena dipanggil pimpinan, saya skor tadi sidangnya," ucapnya.

Usai persidangan, maharnews mencoba mewawancarai saksi KPK, namun ditolak dan langsung berlalu pergi. Bahkan saat maharnews terus membuntuti dan meminta waktu untuk wawancara dengan suara sedikit berteriak ke arahnya, Amir Arif tetap berjalan kencang dan menjawab singkat.

"Ke Humas saja, ke Febri (Kepala Biro Hubungan Masyarakat KPK, Febri Diansyah, red)," singkatnya berlalu pergi. (wan)



Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Semua Komentar

Komentar