Tatapan Tajam RM, Kuasa Hukum Ngotot Akan Hadirkan Saksi Ahli Hukum Pidana

Tatapan Tajam RM, Kuasa Hukum Ngotot Akan Hadirkan Saksi Ahli Hukum Pidana

Foto : Ridwan Mubarok menatap tajam saat Plt. Bupati duduk dikursi saksi dan memberikan kesaksian terhadap 4 terdakwa di Pengadilan Negeri Cianjur, Rabu minggu lalu (4/9/2019).



CIANJUR. Maharnews.com - Sidang dengan terdakwa Ridwan Mubarok (RM) kembali digelar di Pengadilan Negeri Cianjur, dengan agenda sidang menghadirkan saksi yang meringankan, Rabu (18/9/2019). Rekan aktivis dan Istri RM, Yani Nurhasanah menjadi dua orang saksi tersebut, tetapi saksi ahli yang rencananya bakal dihadirkan tidak terlihat.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Selamet Santoso mengatakan kehadiran saksi ahli dalam perkara RM tidak diperlukan. Penilaian ia serahkan seluruhnya kepada majelis hakim.

"Tidak ada saksi ahli, kita tidak menghadirkan," ujarnya saat diwawancarai seusai sidang.

Selamet menyebut pada penilaian sebelumnya, yaitu pada terdakwa Mustadjab Latif sudah terbukti, sehingga tidak perlu menghadirkan saksi ahli.

"Yang sudah sudah dirasa cukup. Dakwaan masih pada pasal pemerasan dan penipuan. Biar nanti hakim yang menilai," sebutnya.

Sementara, Kuasa hukum RM, Karnaen mengungkapkan pada jadwal sidang selanjutnya akan tetap menghadirkan saksi ahli hukum pidana meski JPU tidak berniat menghadirkan. Prioritasnya untuk menjelaskan pasal 55.

"Sudah jelas untuk pemerasan dan penipuan klien saya tidak terlibat, pasal 55, turut serta ini kita juga mentahkan," ungkapnya.

Menurut Karnaen, pasal pemerasan dan penipuan jelas kliennya tidak terlibat. Pada pasal penipuan harus ada yang diterima.

"RM tidak menerima uang, baik itu sebagian atau seluruhnya, ini kan tidak menerima (uang, red). Cuman turut serta, inikan masih sumir perlu ada penjelasan," terangnya.

Karnaen menjelaskan bahwa beberapa hal itulah yang menjadi dasar perlunya kehadiran saksi ahli. Tak hanya satu yang dihadirkan, kemungkinan dua orang.

"Rencana dari Unpad (Universitas Padjajaran, red) dan UGM (Universitas Gajah Mada, red), keduanya saksi ahli hukum pidana, minimal guru besar," pungkasnya. (wan)



Tulis Komentar Facebook

Komentar Facebook

Semua Komentar

Komentar